Siswa SMK Semarang bingung status libur awal puasa saat PKL. Disdik tegaskan aturan mengikuti DUDI (Industri) dengan penyesuaian jam kerja.
Semarang (16/2/2026) – Senin pagi ini menjadi hari yang membingungkan bagi ribuan siswa SMK di Kota Semarang yang sedang menjalani periode Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau Prakerin. Di satu sisi, kalender pendidikan resmi dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang menetapkan libur awal puasa (H-1 hingga H+2 Ramadan) bagi siswa yang belajar di sekolah. Namun, di sisi lain, dunia industri tempat mereka magang tetap beroperasi normal seperti hari kerja biasa. Dilema "Status Pelajar, Rasa Karyawan" ini seringkali memicu pertanyaan di grup WhatsApp kelas maupun media sosial: "Apakah anak PKL ikut libur sekolah atau tetap masuk kerja?"
Menanggapi kegaduhan tahunan ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah (yang menaungi jenjang SMA/SMK) menegaskan aturan main yang jelas. Bagi siswa yang sedang diterjunkan di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), aturan libur dan jam kerja **sepenuhnya mengikuti kebijakan perusahaan tempat mereka magang**, bukan mengikuti kalender libur sekolah. Artinya, jika perusahaan tidak meliburkan karyawannya pada hari pertama puasa, maka siswa PKL wajib tetap masuk. Hal ini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan adaptasi budaya kerja profesional yang sesungguhnya, di mana tanggung jawab pekerjaan tidak serta merta berhenti karena pergantian bulan kalender.
Ikuti Aturan Perusahaan Bukan Sekolah
Prinsip dasar dari PKL adalah mengenalkan siswa pada ritme kerja yang nyata (*real work environment*). Oleh karena itu, siswa tidak bisa menuntut hak libur yang sama dengan teman-temannya yang masih belajar di dalam kelas (sekolah). Jika manajemen perusahaan menetapkan hari Senin dan Selasa ini tetap berproduksi, maka siswa magang harus hadir tepat waktu mengisi presensi. Absen tanpa keterangan dengan alasan "mengira libur sekolah" akan dianggap sebagai tindakan indisipliner yang bisa mempengaruhi nilai akhir sertifikat magang, bahkan bisa berujung pada pengembalian siswa ke sekolah (penarikan) jika perusahaan merasa siswa tersebut tidak serius.
Meski demikian, komunikasi adalah kuncinya. Sekolah biasanya sudah membekali siswa dengan surat pengantar dan MoU (Nota Kesepahaman). Dalam beberapa kasus, perusahaan yang memiliki toleransi tinggi atau yang pimpinannya memahami kondisi siswa, mungkin akan memberikan kelonggaran libur di hari pertama puasa (Fakultatif). Namun, kelonggaran ini bersifat "kebaikan hati perusahaan", bukan hak mutlak siswa. Jadi, jangan sampai siswa bolos sepihak tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada pembimbing lapangan (supervisor) di tempat kerja masing-masing.
Jam Pulang Lebih Awal Ramadan
Kabar baiknya, meskipun tetap masuk, mayoritas perusahaan di Semarang menerapkan kebijakan pengurangan jam kerja selama bulan Ramadan, sesuai dengan edaran Kementerian Ketenagakerjaan. Jika pada hari biasa siswa PKL masuk pukul 08.00 dan pulang pukul 16.00 atau 17.00 WIB, maka selama bulan puasa biasanya jam pulang akan dimajukan menjadi pukul 15.00 atau 15.30 WIB. Pengurangan durasi kerja ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada karyawan (termasuk siswa magang) untuk mempersiapkan berbuka puasa bersama keluarga dan beribadah tanpa kelelahan yang berlebihan.
Siswa PKL disarankan untuk aktif bertanya kepada HRD atau pembimbing industri mengenai perubahan jadwal ini. Jangan sampai terjadi miskomunikasi di mana siswa pulang cepat padahal aturan perusahaan belum berubah, atau sebaliknya, siswa menunggu terlalu lama padahal kantor sudah sepi. Selain itu, beban kerja fisik bagi siswa magang di sektor berat (seperti bengkel otomotif, konstruksi, atau pabrik garmen) biasanya juga akan disesuaikan. Siswa diharapkan tetap bekerja profesional namun tahu batas kemampuan fisik diri sendiri saat sedang berpuasa agar tidak terjadi dehidrasi atau kecelakaan kerja (*work accident*).
Guru Pembimbing Wajib Monitoring Siswa
Peran Guru Pembimbing (Guru Monitoring) dari sekolah menjadi sangat krusial di minggu pertama puasa ini. Pihak sekolah tidak boleh lepas tangan begitu saja setelah menyerahkan siswa ke industri. Guru wajib melakukan kunjungan atau minimal komunikasi intensif via telepon/WhatsApp dengan pihak perusahaan untuk memastikan kondisi anak didiknya. Guru harus memastikan bahwa siswa mendapatkan hak waktu istirahat yang cukup untuk sholat Dzuhur dan Ashar, serta memastikan lingkungan kerja tetap kondusif dan tidak memaksa siswa melakukan pekerjaan berat yang membahayakan kesehatan saat perut kosong.
Selain itu, guru pembimbing juga bertugas memantau Jurnal Kegiatan Harian siswa. Seringkali, euforia puasa membuat siswa malas mengisi jurnal dengan alasan "lemas". Padahal, jurnal ini adalah bukti otentik kehadiran. Guru harus mengingatkan bahwa meskipun suasana Ramadan lebih santai, target kompetensi (skill) yang harus dikuasai selama magang tidak boleh berkurang. Sinergi antara guru sekolah dan pembimbing industri akan menyelamatkan siswa dari kebingungan dan potensi eksploitasi tenaga kerja berkedok magang.
Waspada Tawuran Saat Pulang Magang
Satu isu keamanan yang menjadi sorotan Polrestabes Semarang tahun 2026 ini adalah fenomena "Perang Sarung" atau tawuran pelajar yang sering terjadi menjelang berbuka puasa (ngabuburit). Siswa PKL yang pulang kerja sore hari dengan mengenakan seragam sekolah atau *wearpack* identitas sekolah sangat rentan menjadi target provokasi di jalan raya. Kondisi fisik yang lelah dan emosi yang labil karena lapar seringkali menjadi pemicu gesekan antar kelompok pelajar di titik-titik rawan seperti Jalan Arteri Soekarno-Hatta, Kaligawe, atau Suratmo.
Disdik Kota Semarang menghimbau keras agar siswa PKL langsung pulang ke rumah setelah jam kerja selesai. Hindari nongkrong bergerombol di warung burjo atau pinggir jalan dengan masih memakai atribut sekolah/magang. Jika memungkinkan, gantilah baju kerja dengan baju bebas (kaos) saat perjalanan pulang untuk menyamarkan identitas sekolah demi keamanan. Orang tua juga diminta proaktif mengecek keberadaan anak; jika jam 16.00 belum sampai rumah, segera hubungi, karena modus tawuran saat ini seringkali berkedok "buka bersama" teman seangkatan.
Kesimpulan
Bagi kalian siswa SMK yang sedang berjuang di tempat PKL, ingatlah bahwa ini adalah simulasi dunia kerja yang sesungguhnya. Karyawan profesional tidak libur hanya karena puasa dimulai. Justru di bulan inilah ketahanan mental dan fisik kalian diuji. Tetap semangat, ikuti aturan perusahaan dengan baik, jaga kesehatan, dan selalu utamakan keselamatan saat berangkat maupun pulang kerja. Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, tapi momentum untuk membuktikan etos kerja yang prima.
Komentar