Masjid Kapal Safinatun Najah Ngaliyan jadi lokasi ngabuburit favorit warga Semarang. Arsitektur unik ala Bahtera Nuh cocok untuk wisata religi sore.
Memasuki pekan pertama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, tradisi *ngabuburit* atau menunggu waktu berbuka puasa kembali menjadi rutinitas yang dinanti warga Kota Semarang. Jika kawasan Simpang Lima atau Kota Lama sudah terasa terlalu padat dan *mainstream*, wilayah Semarang Barat menyimpan sebuah permata wisata religi yang kini tengah naik daun. Terletak di perbatasan Ngaliyan dan Mijen, sebuah bangunan raksasa mencolok perhatian siapa saja yang melintas; bukan gedung bertingkat biasa, melainkan sebuah masjid megah yang didesain menyerupai kapal pesiar raksasa yang terdampar di tengah daratan hijau.
Masjid Safinatun Najah, atau yang lebih akrab disapa warga lokal sebagai "Masjid Kapal Ngaliyan", menjadi primadona destinasi wisata sore hari ini. Setiap pukul empat sore, arus kendaraan roda dua maupun roda empat mulai memadati area parkir dan jalanan desa di sekitarnya. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari warga Kecamatan Ngaliyan, tetapi juga mahasiswa UIN Walisongo yang indekos di sekitarnya, hingga wisatawan dari luar kota seperti Kendal dan Demak. Mereka datang dengan satu tujuan: memadukan wisata rekreasi *instagramable* dengan kekhusyukan ibadah di bulan yang penuh berkah ini.
Arsitektur Unik Mirip Bahtera Nuh
Daya tarik paling magis dari Masjid Safinatun Najah tentu saja terletak pada desain arsitekturnya yang anti-mainstream. Dibangun di atas lahan seluas 2.500 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 1.500 meter persegi, masjid ini terdiri dari tiga lantai yang memiliki fungsi berbeda. Eksteriornya benar-benar menyerupai kapal kayu raksasa lengkap dengan detail buritan, dek penumpang, hingga jendela-jendela bundar khas armada laut (*porthole*). Desain ini konon terinspirasi dari kisah epik Bahtera Nabi Nuh AS yang menyelamatkan umatnya dari banjir bandang, memberikan pesan filosofis bahwa masjid adalah tempat berlabuh yang menyelamatkan umat dari derasnya ombak kehidupan duniawi.
Warna cokelat kayu yang mendominasi dinding luar bangunan berpadu indah dengan rimbunnya pepohonan di kawasan Podorejo, menciptakan kontras visual yang memanjakan mata kamera. Tidak heran, sejak pertama kali viral beberapa tahun lalu hingga Ramadan 2026 ini, setiap sudut luar masjid selalu dipenuhi oleh muda-mudi maupun rombongan keluarga yang berswafoto. Kemegahan kapal raksasa di tengah hijaunya perbukitan ini memberikan ilusi seolah pengunjung sedang bersiap memulai pelayaran spiritual yang tenang, menjauhkan diri dari hiruk-pikuk bisingnya pusat industri di pesisir Semarang Bawah.
Pesona Sunset Dari Dak Kapal
Bagi para pemburu senja (*sunset lovers*), waktu terbaik untuk mengunjungi Masjid Kapal Ngaliyan adalah sekitar pukul 17.00 WIB. Pengunjung diperbolehkan naik hingga ke lantai tiga yang didesain menyerupai *rooftop* atau dak kapal terbuka (lunas atas). Dari ketinggian ini, pengunjung akan disuguhi panorama pemandangan alam Semarang Barat yang luar biasa memukau, tanpa terhalang gedung-gedung pencakar langit. Hembusan angin perbukitan yang sejuk perlahan menghapus rasa lelah dan dahaga setelah seharian penuh berpuasa.
Menjelang waktu berbuka, langit di ufuk barat perlahan berubah warna menjadi gradasi jingga keemasan yang syahdu. Momen ini seringkali dimanfaatkan pengunjung untuk duduk bersila di area terbuka sambil membaca Al-Qur'an (tadarus), berdzikir, atau sekadar bercengkerama santai bersama sahabat. Sensasi menunggu adzan Maghrib di atas "kapal" yang seakan berlayar menembus langit senja ini memberikan kedamaian batin tersendiri, sebuah pengalaman *ngabuburit* eksklusif yang sulit ditemukan di masjid-masjid perkotaan lainnya di Jawa Tengah.
Pusat Takjil Dan Jajanan Sore
Efek domino dari ramainya pengunjung Masjid Kapal secara langsung menggerakkan roda perekonomian warga Desa Podorejo di sekitarnya. Selama bulan puasa ini, jalanan menuju kompleks masjid mendadak berubah menjadi pasar kaget dadakan yang menjajakan aneka menu takjil untuk berbuka. Puluhan pedagang kaki lima berjejer rapi di luar gerbang utama, menawarkan berbagai pilihan kuliner khas Ramadan mulai dari es buah segar, kolak pisang, mendoan hangat, hingga makanan berat seperti soto ayam dan nasi kucing angkringan.
Harganya yang sangat bersahabat dengan kantong—mengingat target pasarnya banyak dari kalangan mahasiswa kampus sekitar—membuat area jajanan ini selalu ludes terjual sebelum adzan Isya berkumandang. Pengunjung biasanya membeli takjil di luar, lalu membawanya masuk untuk disantap ringan di serambi lantai satu (yang dikhususkan sebagai aula serbaguna) saat bedug Maghrib ditabuh. Sinergi antara wisata religi dan pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal ini menjadikan suasana sore di Masjid Kapal terasa sangat hidup, hangat, dan penuh dengan nuansa kekeluargaan ala pesisir Jawa.
Fasilitas Ibadah Yang Sangat Nyaman
Meskipun berstatus sebagai destinasi wisata ikonik, fungsi utama Masjid Safinatun Najah sebagai tempat ibadah sama sekali tidak terpinggirkan. Ruang sholat utama terletak di lantai dua, yang didesain dengan konsep ruang terbuka tanpa banyak pilar penyangga di tengahnya. Sirkulasi udara mengalir sangat lancar melalui jendela-jendela bundar di sisi kanan dan kiri bangunan, sehingga suhu di dalam ruangan tetap terasa sejuk dan nyaman meskipun dipenuhi ratusan jamaah, tanpa perlu bergantung pada pendingin ruangan (AC) yang berlebihan.
Kebersihan area wudhu dan toilet yang berada di lantai dasar (lantai satu) juga dijaga dengan sangat ketat oleh pihak pengelola (takmir). Ada batasan tegas yang diterapkan: pengunjung yang datang murni untuk berwisata dilarang masuk ke ruang sholat utama jika tidak berniat mendirikan sholat atau mengenakan pakaian yang tidak menutup aurat. Hal ini memastikan bahwa hiruk-pikuk wisatawan di area taman dan *rooftop* tidak akan mengganggu kekhusyukan jamaah yang sedang menunaikan ibadah sholat Maghrib berjamaah maupun sholat Tarawih yang digelar selepas Isya.
Akses Rute Dan Harga Tiket
Lokasi Masjid Kapal ini berada di Jalan Kyai Padak, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Bagi Anda yang berangkat dari pusat kota (Simpang Lima), perjalanan memakan waktu sekitar 30 hingga 45 menit menggunakan kendaraan bermotor. Rutenya cukup mudah diakses: arahkan kendaraan menuju Jalan Pantura Semarang-Kendal, belok kiri naik ke arah Jalan Prof. Hamka (Ngaliyan), melewati depan Kampus UIN Walisongo dan RS Permata Medika, lalu masuk ke jalan desa menuju Podorejo mengikuti rambu penunjuk jalan yang sudah banyak tersedia.
Untuk memasuki kawasan wisata religi ini, pengunjung tidak dikenakan tarif tiket masuk alias gratis. Anda hanya perlu menyiapkan uang pas untuk retribusi parkir kendaraan yang dikelola oleh warga setempat, yakni sekitar Rp 3.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Sebagai tips tambahan bagi pengunjung di bulan Ramadan ini, sebaiknya datanglah lebih awal sekitar pukul 16.00 WIB untuk mengamankan tempat parkir yang dekat, karena semakin mendekati jam berbuka, jalanan desa yang relatif sempit biasanya akan mengalami kemacetan yang cukup panjang.
Kesimpulan
Menghabiskan waktu sore menunggu adzan Maghrib di Masjid Kapal Ngaliyan menawarkan paket lengkap bagi warga Semarang; wisata arsitektur yang memanjakan mata, panorama alam yang menenangkan, wisata kuliner merakyat, sekaligus fasilitas ibadah yang paripurna. Destinasi ini membuktikan bahwa tempat ibadah bisa beradaptasi menjadi daya tarik wisata yang positif tanpa kehilangan nilai-nilai kesuciannya. Jika Anda bosan dengan suasana kafe perkotaan, berlayarlah sejenak ke "Bahtera Nuh" ini di akhir pekan puasa nanti.
Satu hal yang perlu selalu diingat, di balik keindahannya sebagai spot foto yang estetik, tempat ini tetaplah sebuah rumah ibadah. Seluruh pengunjung diwajibkan untuk menjaga kesopanan, membuang sampah sisa takjil pada tempatnya, dan menjaga ketenangan ketika waktu sholat tiba agar harmoni antara wisata dan ibadah di bulan suci ini dapat terus terjaga.
Komentar