Laporan langsung tradisi Padusan jelang Ramadan 2026. Jalur Bandungan dan Muncul macet total diserbu ribuan warga yang hendak mandi suci.
Ungaran, Seputar Semarang – Sabtu (14/2/2026) pagi hingga siang ini, jalur utama menuju kawasan wisata Bandungan dan Banyubiru lumpuh total. Ribuan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat berplat H, AD, hingga B, tampak mengular panjang di tanjakan Lemah Abang menuju Jimbaran. Fenomena kemacetan luar biasa ini dipicu oleh tradisi tahunan masyarakat Jawa Tengah, yakni Padusan, sebuah ritual mandi suci untuk membersihkan diri secara lahir dan batin menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H yang tinggal menghitung hari.
Dua titik yang menjadi pusat konsentrasi massa hari ini adalah Kawasan Wisata Umbul Sidomukti di lereng Gunung Ungaran dan Pemandian Alam Muncul di Banyubiru. Warga rela bermacet-macetan berjam-jam demi bisa merasakan dinginnya mata air alami pegunungan, yang dipercaya dapat menyegarkan pikiran dan meluruhkan kotoran sebelum menunaikan ibadah puasa minggu depan.
Lautan Manusia Di Umbul Sidomukti
Di kolam renang alami Umbul Sidomukti, suasana tenang yang biasanya ditawarkan kini berganti menjadi hiruk-pikuk ribuan pengunjung. Sejak loket dibuka pukul 07.00 WIB, antrean pengunjung sudah mengular hingga ke area parkir bawah. Kolam bertingkat dengan pemandangan awan yang ikonik tersebut tampak sesak, nyaris tidak ada ruang kosong untuk berenang leluasa. Pengelola mencatat lonjakan pengunjung hingga 300% dibandingkan akhir pekan biasa, memaksa mereka memberlakukan sistem buka-tutup di pintu gerbang utama untuk mencegah kepadatan berlebih di area kolam.
Bagi sebagian pengunjung, kepadatan ini tidak menyurutkan niat mereka. "Sudah tradisi Mas, rasanya kalau belum Padusan di air gunung yang dingin, puasa nanti kurang sreg. Biar macet yang penting anak-anak senang dan kita bisa niat mandi sunnah," ujar Purnomo (45), warga Pedurungan yang datang memboyong keluarga besarnya menggunakan mobil bak terbuka. Suasana riuh rendah tawa anak-anak bercampur dengan aroma belerang tipis dan sejuknya kabut Ungaran menciptakan atmosfer festival rakyat yang kental.
Jalur Jimbaran Bandungan Lumpuh Total
Dampak dari antusiasme warga ini paling terasa di sektor lalu lintas. Simpang Pasar Jimbaran yang menjadi titik pertemuan arus dari Ungaran, Ambarawa, dan Sumowono menjadi simpul kemacetan terparah siang ini. Kendaraan hanya bisa bergerak merayap dengan kecepatan 5-10 km/jam. Polisi lalu lintas dari Polres Semarang tampak kewalahan mengatur arus, beberapa kali harus melakukan rekayasa lalu lintas one way (satu arah) situasional untuk mengurai benang kusut kendaraan yang didominasi oleh sepeda motor dan mobil pribadi.
Bau kampas kopling yang hangus tercium menyengat di tanjakan-tanjakan tajam menuju Sidomukti. Banyak kendaraan tua atau motor matic yang tidak kuat menanjak akhirnya mogok di bahu jalan, semakin memperparah kemacetan. "Saya dari Semarang Bawah jam 8 pagi, sampai sekarang jam 11 belum sampai atas. Padahal biasanya cuma 45 menit," keluh seorang pengendara motor yang memilih beristirahat di warung pinggir jalan sambil mendinginkan mesin motornya.
Pemandian Muncul Alternatif Warga Lokal
Sementara itu, di sisi selatan Kabupaten Semarang, Pemandian Alam Muncul di Banyubiru juga mengalami nasib serupa. Berbeda dengan Sidomukti yang lebih berkonsep wisata modern, Muncul menjadi favorit warga lokal karena harga tiketnya yang merakyat dan sumber airnya yang benar-benar alami dari dasar tanah. Ribuan warga dari Salatiga, Ambarawa, dan sekitarnya tumpah ruah di kolam besar yang airnya sebening kaca tersebut.
Di sini, nuansa ritual terasa sedikit lebih kental. Terlihat beberapa orang tua yang membasuh wajah dan kepala mereka dengan khusyuk di sudut-sudut sumber mata air, memanjatkan doa niat puasa. Namun, suasana sakral itu tetap berbaur dengan keriangan anak-anak yang bermain ban pelampung. Pedagang gorengan, pecel, dan penyewaan tikar di sekitar lokasi panen rezeki, dengan omzet yang melonjak berkali-kali lipat dibanding hari biasa.
Imbauan Waspada Cuaca Hujan Ekstrem
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang mengeluarkan imbauan agar warga tetap waspada, mengingat bulan Februari 2026 ini curah hujan masih tergolong tinggi. Potensi hujan lebat disertai angin kencang diprediksi akan turun pada sore hari nanti, yang bisa membuat jalanan di kawasan pegunungan menjadi sangat licin dan rawan longsor kecil. Pengunjung diimbau untuk segera turun atau meninggalkan lokasi wisata air jika mendung gelap mulai terlihat di puncak gunung.
"Kami tempatkan personel SAR di titik-titik rawan, terutama di wisata air terjun dan sungai. Jangan sampai tradisi bersenang-senang ini berubah menjadi duka karena kurang waspada terhadap cuaca," tegas Kepala Pelaksana BPBD dalam keterangan singkatnya. Warga juga diingatkan untuk mengecek kondisi rem kendaraan sebelum menuruni jalur Bandungan yang curam saat pulang nanti.
Kesimpulan
Tradisi Padusan di Semarang tahun 2026 ini membuktikan bahwa modernisasi tidak menggerus budaya lokal. Meskipun harus membayar "harga mahal" berupa kemacetan berjam-jam, kepuasan batin setelah membersihkan diri di air alam tampaknya tak tergantikan bagi masyarakat Jawa Tengah. Bagi Anda yang belum berangkat, disarankan untuk mencari alternatif pemandian lain atau melakukan padusan di rumah saja demi menghindari terjebak macet hingga malam hari.
- Pantauan Lapangan Tim Seputar Semarang
- Informasi Satlantas Polres Semarang
Komentar