Mengungkap sejarah dan filosofi Roti Ganjel Rel, kuliner legendaris khas Semarang yang menjadi simbol perayaan Dugderan menyambut bulan suci Ramadan.
Perayaan Dugderan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah di Kota Semarang telah usai diselenggarakan dengan meriah beberapa hari yang lalu. Ribuan warga tumpah ruah di kawasan Masjid Kauman dan Alun-alun Johar untuk menyaksikan pawai Warak Ngendog dan mendengarkan dentuman meriam. Namun, di balik kemeriahan visual tersebut, ada satu elemen kuliner yang kehadirannya selalu dinanti dan menjadi rebutan warga: **Roti Ganjel Rel**.
Bagi pendatang atau wisatawan, nama roti ini mungkin terdengar aneh dan kasar. Secara harfiah, "ganjel rel" berarti bantalan rel kereta api. Dan memang, jika dilihat dari bentuk fisik dan teksturnya, roti ini tidak memiliki kelembutan layaknya roti modern atau *pastry* ala Eropa. Warnanya cokelat gelap pekat, bentuknya persegi panjang tebal menyerupai balok kayu, dan teksturnya terbilang cukup alot ketika digigit. Namun, bagi "cah Semarang" asli, sepotong Roti Ganjel Rel bukan sekadar penganan pengisi perut, melainkan warisan budaya luhur yang menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam tentang persiapan spiritual menghadapi bulan puasa.
Warisan Kolonial Dengan Sentuhan Lokal
Sejarah mencatat bahwa Roti Ganjel Rel merupakan bentuk akulturasi budaya kuliner antara bangsa Belanda dan masyarakat pribumi Jawa di masa kolonial Hindia Belanda. Roti ini diyakini sebagai adaptasi dari resep kue khas Belanda bernama *Ontbijtkoek* (kue sarapan). Pada masa itu, *Ontbijtkoek* adalah hidangan mewah yang hanya bisa dinikmati oleh para *meneer* dan keluarga bangsawan Eropa. Teksturnya sangat lembut karena menggunakan bahan-bahan premium seperti gandum halus, mentega berkualitas tinggi, susu, dan telur ayam kampung dalam jumlah yang banyak.
Masyarakat pribumi kelas bawah di Semarang yang ingin mencicipi kelezatan kue tersebut akhirnya berinovasi menciptakan versi "paket hemat". Karena gandum halus sangat mahal, mereka menggantinya dengan tepung singkong atau tepung gaplek yang dicampur dengan sedikit tepung terigu kualitas rendah. Sebagai pengganti gula pasir dan mentega mahal, mereka menggunakan gula jawa (gula aren) cair dan rempah-rempah lokal seperti kayu manis, cengkeh, dan bunga lawang (*adas manis*). Hasil modifikasi inilah yang menciptakan tekstur keras, warna cokelat gelap, dan aroma rempah yang sangat menyengat, yang kini kita kenal sebagai Roti Ganjel Rel.
Filosofi Bantalan Rel Kereta Api
Penamaan "Ganjel Rel" sendiri lahir dari celetukan masyarakat akar rumput Semarang (warga pesisir) yang gemar menggunakan majas metafora dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Kota Semarang merupakan pusat penting transportasi kereta api di Hindia Belanda (NIS - *Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij*). Warga lokal yang melihat bentuk kue cokelat balok ini langsung mengasosiasikannya dengan bantalan rel kereta api berbahan kayu jati yang keras dan kokoh, yang banyak membentang di sekitar kawasan Stasiun Tawang dan Poncol.
Lebih dari sekadar kemiripan fisik, ada makna filosofis yang disisipkan oleh para ulama dan sesepuh Kota Semarang dalam prosesi membagikan roti ini saat Dugderan. Tekstur roti yang "bantat" (padat dan keras) menyimbolkan rintangan, kesulitan, dan hawa nafsu duniawi yang sering mengganjal hati manusia. Mengunyah Roti Ganjel Rel yang alot membutuhkan usaha ekstra dan kesabaran; hal ini dimaknai sebagai pengingat bahwa umat Muslim harus bersusah payah mengendalikan amarah, menahan lapar dahaga, serta "mengganjal" (membendung) segala niat buruk agar perjalanan ibadah puasa mereka bisa selurus dan selancar laju kereta api di atas relnya.
Taburan Wijen Lambang Keberagaman
Salah satu ciri khas utama yang tidak boleh dihilangkan dari Roti Ganjel Rel adalah taburan biji wijen putih di seluruh bagian permukaannya. Secara kuliner, wijen memberikan aroma gurih (*nutty*) saat dipanggang, yang menyeimbangkan rasa manis legit dari gula jawa dan aroma kuat dari kayu manis. Namun, dalam kacamata budaya Semarangan, ribuan biji wijen kecil yang menempel pada tubuh roti yang keras itu memiliki simbolisme sosial yang sangat relevan dengan identitas kota ini.
Biji wijen tersebut merepresentasikan masyarakat Kota Semarang yang sangat majemuk (*plural*); terdiri dari berbagai etnis (Jawa, Tionghoa, Arab, Melayu), agama, dan latar belakang sosial yang berbeda-beda. Meskipun kecil dan beragam, jika "menempel" dan bersatu erat di atas satu pijakan yang sama (disimbolkan oleh badan roti), mereka akan menciptakan harmoni rasa dan aroma yang indah. Ini adalah pesan perdamaian dan toleransi antar warga agar senantiasa menjaga kerukunan, tidak hanya saat menyambut bulan puasa, tetapi juga dalam kehidupan bertetangga sehari-hari di ibu kota Jawa Tengah ini.
Upaya Pelestarian Kuliner Langka
Meskipun sarat akan nilai sejarah, eksistensi Roti Ganjel Rel saat ini menghadapi tantangan besar. Di luar momen tradisi Dugderan, sangat sulit menemukan toko roti atau pedagang kaki lima di Semarang yang menjajakan jajanan tradisional ini secara rutin setiap hari. Lidah generasi muda (Gen Z dan Alpha) cenderung lebih menyukai kue-kue kekinian yang lembut, *creamy*, dan *instagramable*, seperti *croissant* atau *cheesecake*. Tekstur alot Roti Ganjel Rel dianggap kurang ramah di mulut, sehingga pamornya perlahan meredup di tanah kelahirannya sendiri.
Menyadari ancaman kepunahan ini, beberapa pengrajin kue legendaris di kawasan Kota Lama dan Mataram (Jalan MT Haryono) mulai melakukan inovasi. Mereka tetap mempertahankan resep rempah asli, namun menggunakan teknik *baking* modern dan sedikit tambahan mentega berkualitas untuk membuat teksturnya menjadi lebih empuk (*soft*) agar bisa diterima oleh lidah anak muda tanpa harus merusak esensi rasa aslinya. Pemerintah Kota Semarang juga gencar mempromosikan roti ini sebagai buah tangan (oleh-oleh) wajib bagi wisatawan, bersanding dengan Lumpia dan Bandeng Presto, agar denyut nadi kuliner heritage ini tetap berdetak kencang melintasi zaman.
Kesimpulan
Roti Ganjel Rel adalah bukti nyata bahwa kuliner tradisional bukan sekadar urusan memanjakan lidah, melainkan medium komunikasi budaya lintas generasi. Melalui sepotong roti yang keras dan beraroma rempah ini, leluhur Semarang mengajarkan kita tentang sejarah, kesabaran menahan hawa nafsu, dan pentingnya merawat toleransi dalam keberagaman. Jika hari ini Anda masih memiliki sisa Roti Ganjel Rel dari perayaan Dugderan kemarin, nikmatilah perlahan dengan secangkir teh panas tawar saat sahur nanti; resapi filosofinya, dan rasakan betapa kayanya warisan budaya kota tercinta kita ini.
Komentar