Habiskan akhir pekan pertama puasa dengan ngabuburit klasik naik kuda dan bendi di Simpang Lima Semarang. Hiburan murah meriah favorit keluarga.
Memasuki akhir pekan pertama di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, ritme kehidupan warga Kota Semarang tampak sedikit berubah. Jika pada hari kerja (*weekdays*) jalanan dipenuhi oleh kepenatan para pekerja kantoran yang buru-buru pulang, hari Sabtu sore ini suasana kota terasa jauh lebih santai. Kawasan Lapangan Pancasila atau yang lebih melegenda dengan sebutan Simpang Lima, kembali membuktikan diri sebagai jantung hiburan rakyat. Ribuan warga memadati area alun-alun raksasa ini bukan untuk berdemo, melainkan untuk menikmati ritual tahunan yang pantang dilewatkan: *Ngabuburit*.
Meski gempuran kafe *aesthetic* dan restoran cepat saji bermunculan di setiap sudut kota, ada satu pesona klasik ala "Semarangan" yang posisinya tak pernah tergeser di Simpang Lima. Tepat di pelataran aspal yang mengelilingi lapangan rumput, deretan kuda tunggang dan kereta bendi (delman hias) siap menyambut pengunjung. Suara tapak kaki kuda yang beradu dengan kerasnya aspal kota—diselingi gemerincing bel delman—menciptakan simfoni nostalgia yang khas. Bagi keluarga muda maupun sepasang kekasih, berkeliling Simpang Lima menunggang kuda sambil menanti kumandang adzan Maghrib adalah cara paling otentik untuk merayakan akhir pekan di bulan puasa.
Hiburan Klasik Di Tengah Kota
Menghadirkan hewan mamalia besar seperti kuda di episentrum sebuah kota metropolitan tentu menjadi anomali yang indah. Saat gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan elit (Mal Ciputra), dan deretan hotel berbintang menjadi latar belakangnya, kehadiran kuda-kuda poni dan kuda pacu ini menawarkan pelarian instan ke suasana pedesaan. Warga lokal Semarang seolah memiliki "mesin waktu" tersendiri. Para orang tua yang dulu di era 90-an diajak ayah-ibunya naik bendi di tempat yang sama, kini membawa anak-anak mereka untuk menularkan kebahagiaan serupa.
Sensasi menunggang kuda di tengah pusaran lalu lintas jalan raya yang memutar (bundaran) memberikan pengalaman visual yang tidak biasa. Angin sore yang berhembus menyejukkan tubuh yang lelah berpuasa, sementara mata dimanjakan oleh hiruk-pikuk warga kota yang sedang berburu takjil di pinggir lapangan. Bagi anak-anak yang terbiasa hidup dengan *gadget*, berinteraksi langsung dengan kuda—mengelus surainya atau sekadar berfoto dari dekat—merupakan edukasi nyata tentang kecintaan terhadap makhluk hidup, sekaligus terapi stres yang ampuh setelah sepekan berkutat dengan tugas sekolah.
Tarif Sewa Kuda Sangat Ramah
Alasan utama mengapa wisata kuda di Simpang Lima tak pernah sepi peminat adalah harganya yang sangat bersahabat dengan kantong kelas menengah ke bawah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam seperti masuk ke taman hiburan premium. Untuk satu putaran penuh mengelilingi alun-alun seluas 4,5 hektare ini, pengunjung biasanya hanya ditarif sekitar Rp 30.000 hingga Rp 50.000, tergantung apakah Anda memilih kuda tunggang perorangan atau kereta bendi yang bisa diisi oleh 3-4 anggota keluarga sekaligus. Tarif ini tentu sangat sepadan dengan memori bahagia yang tercipta.
Selain itu, para pawang atau pemilik kuda ini mayoritas adalah warga pinggiran Semarang atau daerah penyangga seperti Kendal dan Demak, yang menggantungkan rezeki tambahan di bulan Ramadan. Para pawang ini sangat profesional dan telaten. Mereka akan menuntun kuda dengan perlahan, memastikan sabuk pengaman anak-anak terpasang dengan baik, dan dengan senang hati merangkap tugas sebagai "fotografer dadakan" untuk memotret momen bahagia Anda memakai kamera ponsel. Senyum ramah mereka saat menerima uang sewa menjadi cermin betapa sektor pariwisata mikro ini saling menghidupi ekonomi rakyat kecil di bulan yang penuh berkah.
Berburu Takjil Usai Turun Kuda
Kelebihan utama *ngabuburit* di Simpang Lima adalah integrasi antara hiburan dan kuliner yang tanpa batas. Tepat setelah Anda turun dari pelana kuda dan waktu berbuka puasa hampir tiba, Anda tidak perlu repot menyalakan kendaraan untuk berpindah lokasi mencari makanan. Di lingkar luar lapangan pejalan kaki, ratusan pedagang kaki lima (PKL) sudah menggelar lapaknya sejak pukul 3 sore. Mulai dari kepulan asap jagung bakar, sate ayam, hingga harumnya bumbu kacang dari piring Tahu Gimbal—kuliner khas Semarang yang legendaris—siap menyergap indera penciuman Anda.
Bagi yang ingin sekadar membatalkan puasa dengan yang segar-segar, penjaja es teh jumbo, es buah, dawet ayu, hingga aneka gorengan hangat tersedia setiap dua meter langkah kaki Anda. Setelah membeli takjil, pengunjung biasanya menggelar tikar atau duduk lesehan di area *shelter* pejalan kaki dan rerumputan pinggir lapangan. Makan bersama keluarga beralaskan tikar sambil memandangi lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu menciptakan *vibes* kesederhanaan komunal (*guyub*) yang sangat kental dan dirindukan oleh anak rantau yang lama meninggalkan Semarang.
Aturan Main Dan Menjaga Kebersihan
Menyatukan hewan ternak dengan fasilitas publik di pusat kota tentu membawa tantangan tersendiri, terutama terkait kebersihan. Namun, Pemerintah Kota Semarang telah menata regulasi ini dengan sangat baik. Jika Anda perhatikan secara saksama, setiap kuda di Simpang Lima kini telah dilengkapi dengan "kantong popok" khusus di bagian belakangnya (ekor). Inovasi sederhana ini memastikan bahwa kotoran kuda tidak berceceran di aspal jalanan, sehingga kawasan alun-alun tetap tercium wangi dan higienis bagi pengunjung yang sedang menyantap makanan.
Sebagai pengunjung yang cerdas, ada beberapa "aturan tak tertulis" yang harus kita patuhi saat berinteraksi dengan kuda-kuda ini. Pertama, jangan pernah memberi makan kuda dengan sisa jajanan atau takjil manusia secara sembarangan, karena sistem pencernaan mereka sangat sensitif. Kedua, hindari menyalakan klakson motor dengan keras atau menyalakan petasan di dekat area pangkalan kuda, agar hewan tersebut tidak panik (*spooked*) dan membahayakan penunggangnya. Harmoni antara hiburan warga dan kesejahteraan hewan (*animal welfare*) adalah kunci agar tradisi manis ini bisa terus diwariskan ke generasi berikutnya.
Kesimpulan
Di tengah laju modernisasi ibu kota Jawa Tengah yang semakin pesat, riuhnya tapak kuda di Simpang Lima adalah pengingat manis bahwa kebahagiaan akhir pekan tidak selalu harus diukur dengan tiket masuk yang mahal. *Ngabuburit* menunggang kuda menyajikan paket lengkap: nostalgia masa kecil, hiburan edukatif bagi anak, pemberdayaan ekonomi rakyat kecil, hingga wisata kuliner yang tak ada habisnya. Jika sore ini Anda belum memiliki agenda kemana-mana, segeralah meluncur ke Simpang Lima dan biarkan angin sore membawa lari penat Anda bersama laju sang kuda tunggang.
Komentar