Ketahui sejarah lengkap Kota Semarang dari era Ki Ageng Pandanaran, asal usul nama Asam Arang, hingga perkembangannya di masa kolonial Belanda.
Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah, Semarang kini telah bertransformasi menjadi salah satu kota metropolitan paling sibuk dan maju di Indonesia. Kemegahan gedung-gedung bertingkat, pesatnya laju industri, hingga ramainya denyut nadi pelabuhan dan stasiun kereta api menjadi pemandangan sehari-hari yang tak terpisahkan dari kota ini. Namun, di balik segala gemerlap modernisasi tersebut, Kota Semarang rupanya menyimpan lembaran sejarah panjang yang sangat menarik untuk ditelusuri kembali oleh generasi masa kini.
Sejarah panjang berdirinya kota ini tidak lepas dari perpaduan berbagai budaya, mulai dari jejak penyebaran agama Islam, kuatnya pengaruh arsitektur kolonial Belanda, hingga akulturasi budaya Tionghoa dan Arab di kawasan pesisir. Memahami asal usul dan perjalanan sejarah Kota Semarang bukan hanya sekadar menambah wawasan literasi, melainkan juga sebuah upaya untuk memupuk rasa bangga dan cinta terhadap tanah kelahiran atau tempat kita merantau mencari penghidupan saat ini. Mari kita putar waktu sejenak untuk menengok bagaimana cikal bakal kota tercinta ini bermula.
Asal Usul Nama Dan Pendiri
Berdasarkan catatan sejarah dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, cikal bakal Kota Semarang bermula dari sebuah kawasan pesisir bernama Pragota (kini Bergota) pada akhir abad kelima belas. Pada masa itu, wilayah ini merupakan sebuah pelabuhan kecil yang cukup ramai disinggahi oleh para pedagang. Seorang pangeran dari Kesultanan Demak bernama Pangeran Made Pandan, bersama putranya Raden Pandanaran, kemudian diutus ke wilayah ini untuk menyebarkan agama Islam sekaligus membuka lahan permukiman baru bagi masyarakat sekitar.
Dalam proses pembukaan lahan tersebut, Raden Pandanaran menemukan sebuah keanehan botani yang sangat unik. Di lahan yang subur itu tumbuh pohon-pohon asam, namun jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya sangatlah jarang atau berjauhan. Dalam bahasa Jawa, pohon asam disebut asem, sedangkan jarang disebut arang. Gabungan kata Asem dan Arang inilah yang kemudian melahirkan nama Semarang. Raden Pandanaran (Ki Ageng Pandanaran) kemudian diangkat menjadi bupati pertama, dan tanggal pengangkatannya pada 2 Mei 1547 diperingati sebagai hari jadi Kota Semarang.
Perkembangan Di Era Kolonial Belanda
Lembaran sejarah Semarang berubah secara drastis ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau kongsi dagang Belanda mulai menancapkan kuku kekuasaannya di tanah Jawa. Melalui perjanjian pada awal abad kedelapan belas, tepatnya tahun 1705, wilayah Semarang secara resmi diserahkan oleh Amangkurat II dari Mataram kepada pihak VOC. Menyadari potensi strategis pesisir utara, pemerintah kolonial Belanda kemudian menyulap wilayah ini menjadi kota pelabuhan utama sekaligus basis pertahanan militer yang sangat kuat.
Sebagai wujud nyata kekuasaannya, Belanda membangun sebuah kawasan permukiman dan pusat pemerintahan yang dikelilingi benteng pertahanan, yang dikenal dengan sebutan De Outstadt atau yang kini kita kenal sebagai Kota Lama. Pembangunan infrastruktur semakin masif ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang melintasi Semarang. Akses jalan ini sukses mempercepat laju pergerakan ekonomi dan distribusi hasil bumi dari wilayah pedalaman Jawa menuju pelabuhan untuk diekspor ke Eropa.
Era Pembangunan Jalur Kereta Api
Identitas Semarang sebagai kota niaga yang sangat maju di era kolonial semakin dipertegas dengan hadirnya teknologi transportasi massal berbasis rel api. Pada tahun 1867, pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) meresmikan jalur kereta api pertama di Nusantara yang menghubungkan Stasiun Kemijen di Semarang dengan wilayah Tanggung di Kabupaten Grobogan. Proyek ambisius ini dirancang khusus untuk memperlancar angkutan komoditas gula, kopi, dan kapas dari daerah perkebunan.
Keberadaan jalur kereta api pertama ini membawa dampak sosial dan ekonomi yang sangat luar biasa bagi warga Semarang. Mobilitas masyarakat antarkota menjadi jauh lebih cepat, dan Semarang tumbuh menjadi kota tujuan urbanisasi yang sangat menjanjikan bagi para pekerja kasar maupun pedagang dari berbagai etnis. Sebagai pusat operasional jaringan kereta api di Pulau Jawa, NIS kemudian membangun sebuah kantor megah di ujung Jalan Pemuda yang kini menjadi salah satu ikon pariwisata mistis dan bersejarah andalan kota ini, yaitu Lawang Sewu.
Pertempuran Lima Hari Di Semarang
Sejarah panjang Kota Semarang tidak hanya dihiasi oleh urusan perdagangan, tetapi juga diwarnai oleh tumpah darah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Salah satu peristiwa heroik yang paling membekas di hati masyarakat adalah Pertempuran Lima Hari di Semarang yang meletus pada pertengahan bulan Oktober tahun 1945. Konflik berdarah ini terjadi antara para pemuda Indonesia, yang tergabung dalam Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan kepolisian setempat, melawan sisa-sisa pasukan tentara Jepang yang enggan menyerahkan senjatanya.
Api perlawanan semakin berkobar ketika muncul desas-desus bahwa tentara Jepang telah meracuni cadangan sumber air minum warga di Reservoir Siranda. Dokter Kariadi, yang menjabat sebagai Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara, berniat mengecek kebenaran kabar tersebut namun gugur ditembak oleh patroli tentara Jepang dalam perjalanannya. Gugurnya sang pahlawan medis ini memicu kemarahan besar rakyat Semarang hingga memuncak pada peperangan sengit di simpang lima Tugu Muda. Untuk mengenang peristiwa tersebut, didirikanlah Monumen Tugu Muda yang berdiri kokoh hingga saat ini.
Dari sebuah permukiman pesisir yang dipenuhi pohon asam yang jarang, Kota Semarang telah menempuh perjalanan waktu yang sangat luar biasa. Tangan dingin Ki Ageng Pandanaran sebagai perintis, ambisi tata kota pemerintah kolonial Belanda, hingga darah para pahlawan yang tumpah di aspal jalanan, semuanya telah melebur menjadi satu membentuk karakter Kota Lumpia yang tangguh dan penuh toleransi seperti yang kita saksikan hari ini.
Tugas kita sebagai warga negara yang baik sekaligus penghuni kota ini adalah terus merawat warisan sejarah tersebut agar tidak lekang dimakan usia. Mengunjungi kembali kawasan Kota Lama, menghargai keberagaman budaya di sekitar kita, dan mengingat jasa para pahlawan di Tugu Muda adalah cara paling sederhana untuk berterima kasih kepada para pendahulu. Semoga Kota Semarang terus berkembang menjadi kota metropolitan yang modern tanpa pernah melupakan akar sejarah yang telah membesarkannya.
Komentar