Mengintip geliat pelaku UMKM dan industri rumahan kue kering di Kota Semarang yang mulai kebanjiran pesanan menjelang momen Hari Raya Idulfitri.
Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, fokus masyarakat Kota Semarang tidak lagi hanya terpaku pada perburuan menu takjil di sore hari. Geliat persiapan menyambut hari kemenangan alias Idulfitri sudah mulai terasa di berbagai sudut kota. Salah satu penanda paling nyata adalah semerbak aroma harum mentega dan vanila yang mulai menguar dari dapur-dapur industri rumahan (home industry). Momentum tahunan ini selalu menjadi masa panen raya bagi para pembuat kue kering lokal yang skala produksinya meledak hingga berkali-kali lipat dibandingkan bulan biasa.
Kue kering seperti nastar, kastengel, putri salju, hingga lidah kucing memang telah menjadi elemen wajib yang harus hadir di atas meja tamu saat Lebaran tiba. Menariknya, belakangan ini masyarakat semakin cerdas dalam memilih produk. Alih-alih membeli kue kering pabrikan yang diproduksi massal di swalayan, warga Semarang kini lebih memburu kue kering buatan industri rumahan. Produk homemade dinilai memiliki kualitas rasa yang lebih autentik, penggunaan mentega murni (butter) yang lebih melimpah, serta sentuhan personal yang membuatnya terasa lebih istimewa untuk disajikan kepada sanak saudara.
Pesanan Meningkat Sejak Awal Puasa
Tren pemesanan sistem Pre-Order (PO) kue kering pada tahun ini menunjukkan pergeseran waktu yang cukup signifikan. Jika biasanya lonjakan pesanan baru terjadi pada H-10 Lebaran, tahun ini para pelaku usaha rumahan di kawasan Pedurungan hingga Semarang Barat mengaku sudah kebanjiran orderan sejak minggu pertama Ramadan. Banyak pelanggan lama yang berebut mengamankan slot pesanan lebih awal karena khawatir kehabisan kuota atau terkena imbas kenaikan harga jual jika memesan terlalu mepet dengan hari raya.
Lonjakan pesanan ini tentu membawa berkah finansial, namun sekaligus menuntut manajemen waktu yang sangat ketat dari sang pembuat kue. Seorang pelaku usaha rumahan yang di hari biasa hanya memproduksi dua puluh stoples dalam sebulan, kini harus mengejar target produksi hingga tiga ratus stoples hanya dalam kurun waktu tiga minggu. Mesin oven pun dipaksa menyala hampir dua puluh empat jam penuh dengan sistem kerja sistem sif agar seluruh pesanan dapat dikirimkan tepat waktu sebelum aktivitas ekspedisi pengiriman barang tutup menjelang libur cuti bersama.
Berdayakan Ibu Rumah Tangga Sekitar
Derasnya arus pesanan yang datang jelas tidak mungkin ditangani sendirian oleh si pemilik usaha. Untuk mengejar tenggat waktu, pelaku industri rumahan mau tidak mau harus menyerap tenaga kerja tambahan (freelance). Menariknya, tenaga bantuan yang direkrut mayoritas adalah tetangga sekitar, terutama ibu-ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang. Mereka diberdayakan untuk membantu tugas-tugas teknis yang membutuhkan ketelatenan ekstra, seperti mengupas nanas untuk selai, membulatkan adonan nastar, hingga menata kue ke dalam stoples plastik.
Fenomena ini menciptakan efek domino (multiplier effect) ekonomi yang sangat positif di lingkungan perkampungan Semarang. Upah harian atau borongan yang diterima oleh para ibu rumah tangga ini menjadi suntikan dana segar yang sangat membantu perekonomian keluarga mereka. Uang tambahan tersebut biasanya digunakan untuk melengkapi kebutuhan dapur sehari-hari selama puasa, membeli baju baru untuk anak-anak, atau ditabung sebagai uang saku (sangu) untuk dibagikan kepada keponakan saat tradisi silaturahmi Lebaran tiba.
Strategi Visual Dan Pengemasan Parsel
Dinamika persaingan bisnis kue kering rumahan kini tidak lagi hanya mengandalkan pertempuran rasa di lidah, tetapi juga bergeser ke ranah adu visual kemasan (packaging). Para pengusaha muda yang meneruskan resep legendaris keluarga kini dengan cerdik menggabungkan cita rasa klasik dengan konsep pemasaran modern bergaya hampers (parsel eksklusif). Stoples-stoples mika biasa kini digantikan dengan stoples kaca estetik, tabung silinder minimalis, atau keranjang anyaman rotan yang dihiasi pita cantik berbahan satin serta kartu ucapan khusus.
Strategi penjualan visual ini disebarkan secara masif melalui media sosial seperti Instagram, status WhatsApp, hingga siaran langsung di TikTok. Konsep pengemasan hampers ini rupanya sangat diminati oleh para pekerja kantoran dan kaum milenial Semarang yang ingin mengirimkan bingkisan Lebaran untuk relasi bisnis, calon mertua, atau sahabat karib. Sentuhan kreativitas pada kemasan ini terbukti ampuh mendongkrak nilai jual produk secara drastis, memberikan margin keuntungan yang jauh lebih tebal dibandingkan sekadar menjual kue kering dalam format stoples eceran.
Tantangan Lonjakan Harga Bahan Baku
Di balik manisnya omzet jutaan rupiah yang menanti di depan mata, industri kue kering rumahan tetap harus berhadapan dengan hantu tahunan bernama inflasi bahan pokok. Sudah menjadi rahasia umum bahwa harga komponen utama pembuat kue seperti tepung terigu, telur ayam, gula pasir, hingga mentega (butter) merek ternama selalu meroket tajam menjelang Idulfitri. Kenaikan harga pokok produksi yang fluktuatif ini kerap kali membuat para pembuat kue pusing tujuh keliling dalam menentukan harga jual akhir kepada pelanggan setia mereka.
Menghadapi dilema ini, sebagian besar pengusaha rumahan di Semarang lebih memilih untuk sedikit menaikkan harga jual produk daripada harus menurunkan takaran bahan rahasia mereka. Para produsen ini sangat menyadari bahwa menurunkan kualitas mentega atau mengganti gula asli dengan pemanis buatan adalah tindakan fatal yang akan langsung menghancurkan kepercayaan konsumen. Bagi pembeli kue kering premium, ada harga ada rupa; mereka tidak keberatan membayar lebih mahal asalkan tekstur renyah dan lumer khas mentega asli tetap terjamin kualitasnya.
Kesimpulan
Geliat industri rumahan pembuat kue kering di Semarang menjelang Lebaran adalah bukti nyata betapa tangguhnya sektor UMKM dalam menangkap peluang ekonomi musiman. Usaha yang bermula dari hobi di dapur belakang ini ternyata mampu menciptakan perputaran uang yang masif, membuka lapangan kerja sementara bagi warga sekitar, dan melestarikan tradisi kuliner khas hari raya dengan kualitas rasa yang berani diadu. Di tengah gempuran produk pabrikan, kue kering buatan tangan tetangga tetap memiliki ruang istimewa di hati masyarakat.
Sebagai konsumen yang cerdas dan peduli terhadap kemajuan kota sendiri, mari jadikan momen Idulfitri tahun ini sebagai ajang untuk saling membesarkan usaha lokal. Alihkan anggaran bingkisan Lebaran Anda dengan memesan hampers kue kering dari rekan kerja, tetangga sebelah rumah, atau UMKM terdekat di lingkungan Anda. Dukungan kecil kita dalam membeli produk lokal adalah bahan bakar utama yang akan terus menghidupkan mesin ekonomi kerakyatan di Kota Semarang.
Komentar