Jelang Ramadan 1447 H, TPU Bergota Semarang dipadati peziarah. Simak potret tradisi Nyadran, kemacetan Kyai Saleh, dan berkah bagi penjual bunga.
Semarang (12/2/2026) – Jika Anda melintas di Jalan Kyai Saleh atau Jalan Pandanaran minggu ini, jangan heran jika kemacetan terasa lebih parah dari biasanya. Bukan karena kecelakaan atau perbaikan jalan, melainkan karena ribuan warga Semarang sedang menunaikan "panggilan hati" tahunan: Nyadran.
TPU Bergota, kompleks pemakaman terbesar dan tertua di Kota Semarang, kini berubah menjadi lautan manusia. H-5 menjelang Ramadan 1447 H (yang diperkirakan jatuh pada 17 Februari 2026), warga berbondong-bondong datang untuk membersihkan makam leluhur, menabur bunga, dan memanjatkan doa. Bagi masyarakat Semarang, puasa belum terasa afdal jika belum sowan (berkunjung) ke tempat peristirahatan terakhir orang tua.
Momen "Kumpul Balung Pisah"
Nyadran bukan sekadar ritual keagamaan, tapi juga peristiwa sosial yang mengharukan. Di sela-sela nisan yang berhimpitan, terlihat keluarga besar berkumpul. Mereka menggelar tikar kecil atau sekadar berjongkok mengelilingi pusara.
Inilah momen "Kumpul Balung Pisah" (mengumpulkan tulang yang terpisah). Anggota keluarga yang merantau ke Jakarta atau luar kota sengaja pulang kampung lebih awal hanya untuk momen ini. Di Bergota, sapaan hangat antar kerabat yang lama tak jumpa terdengar bersahutan dengan lantunan ayat suci Yasin. Air mata kerinduan seringkali tumpah saat mereka mengusap nisan yang mulai berlumut, mengingat kenangan bersama almarhum/almarhumah.
Panen Raya Penjual Kembang
Di balik kesenduan doa, ada wajah-wajah sumringah di sepanjang trotoar pintu masuk Bergota. Para penjual kembang (bunga tabur) sedang menikmati masa panen raya. Harga satu keranjang kecil bunga mawar, kenanga, dan melati yang biasanya Rp 5.000, kini bisa melonjak menjadi Rp 15.000 hingga Rp 25.000.
"Alhamdulillah, setahun sekali Mas. Kalau hari biasa sepi, ini mau puasa sehari bisa laku ratusan bungkus," ujar salah satu pedagang bunga musiman. Tak hanya pedagang bunga, juru parkir dadakan dan penyedia jasa bersih makam (pembersih rumput liar) juga ketiban rezeki nomplok. Roda ekonomi mikro berputar kencang berkat tradisi yang tak lekang oleh waktu ini.
Tips Bagi Pengendara & Peziarah
Bagi warga Semarang yang tidak berkepentingan ziarah, disarankan untuk menghindari ruas Jalan Kyai Saleh, Jalan Veteran, dan Mugas pada jam-jam sibuk (pagi pukul 08.00-10.00 dan sore pukul 15.00-17.00). Kepadatan kendaraan parkir di bahu jalan membuat arus lalu lintas tersendat parah.
Bagi Anda yang hendak Nyadran, datanglah lebih pagi (setelah Subuh) atau gunakan transportasi ojek online agar tidak pusing mencari parkir. Jangan lupa membawa payung, karena cuaca Semarang di bulan Februari 2026 ini masih sering diguyur hujan deras secara tiba-tiba.
Kesimpulan
Nyadran di Bergota mengajarkan kita bahwa kematian bukanlah akhir dari hubungan keluarga. Melalui tradisi ini, warga Semarang merawat ingatan, menjaga silaturahmi, dan menyucikan hati sebelum memasuki bulan suci. Hiruk pikuk di Bergota hari ini adalah bukti bahwa di tengah modernitas kota, nilai-nilai bakti kepada orang tua masih tertanam kuat di hati warga Semarang.
Komentar