Potret Ketangguhan Sosial Warga Korban Tanah Gerak Jangli

BAGIKAN:

Melihat lebih dekat ketangguhan sosial dan semangat gotong royong warga Kampung Sekip, Jangli, Semarang, dalam menghadapi musibah bencana tanah gerak.

Sejumlah warga dan relawan bergotong royong mendirikan tenda darurat berwarna oranye di kawasan pengungsian Kampung Sekip Jangli Semarang

Langit mendung masih sering menggelayut di atas perbukitan Kota Semarang, membawa serta rasa waswas bagi sebagian warganya. Di kawasan Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, kecemasan itu telah berubah menjadi realitas yang menyesakkan dada. Sejak awal hingga pertengahan Februari lalu, belasan rumah warga perlahan namun pasti mengalami retak, miring, hingga ambles akibat fenomena alam tanah gerak. Jalanan kampung yang dulunya menjadi urat nadi mobilitas warga kini terputus total dengan rekahan menganga selebar hampir satu meter, mengubah kontur tanah menjadi bergelombang layaknya ombak yang membeku.

Namun, di balik duka kehilangan tempat bernaung dan kerugian materiil yang mencapai puluhan juta rupiah, terselip sebuah pemandangan sosial yang sangat menyentuh hati. Bencana yang dipicu oleh karakteristik tanah rayapan lempung (*creeping clay*) dan curah hujan ekstrem ini rupanya tidak mampu menggerus mentalitas masyarakat setempat. Justru di tengah keterbatasan fasilitas di bawah tenda-tenda pengungsian darurat, ikatan persaudaraan dan empati antarwarga Jangli semakin menguat. Musibah ini menjadi panggung nyata bagaimana budaya gotong royong warisan leluhur masih menjadi pondasi terkuat masyarakat perkotaan dalam bertahan hidup dan saling menguatkan.

Gotong Royong Di Tenda Pengungsian

Kehidupan puluhan jiwa dari dua puluhan Kepala Keluarga (KK) yang terdampak kini berpusat di lahan terbuka tak jauh dari lokasi bencana. Di tempat inilah berdiri beberapa tenda darurat berwarna oranye milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Menariknya, dinamika sosial di barak pengungsian ini jauh dari kesan pasif atau sekadar menunggu uluran tangan. Ketika masa tanggap darurat dan bantuan makanan siap saji dari pemerintah perlahan mulai berkurang, inisiatif kolektif warga langsung mengambil alih komando untuk memastikan perut semua orang tetap terisi.

Memanfaatkan momen akhir pekan dan waktu luang, para bapak dengan sigap mengumpulkan bambu dan terpal untuk membangun struktur tratak tambahan. Di bawah tratak sederhana itulah, ibu-ibu kampung Sekip mendirikan "Dapur Umum Mandiri". Mereka bahu-membahu menyusun jadwal piket memasak, mengelola logistik bahan mentah bantuan *Corporate Social Responsibility* (CSR), hingga memastikan kebersihan lingkungan tenda. Suara denting wajan penggorengan besar dan canda tawa para ibu saat meracik bumbu menjadi bentuk terapi psikologis (*trauma healing*) alami yang mengusir trauma akibat rumah mereka yang runtuh.

Sekelompok ibu-ibu pengungsi sedang sibuk memasak bersama di bawah tenda dapur umum mandiri dengan menggunakan wajan besar
Gambar Ilustrasi : Dapur Umum Mandiri Warga

Kekuatan Mental Hadapi Rayapan Lempung

Secara geologis, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah telah mengonfirmasi bahwa pergerakan tanah di Jangli berjenis rayapan lempung. Sifat tanah lempung yang sangat mengikat air hujan membuat massanya bertambah berat sehingga lapisan bawahnya tergelincir perlahan. Berbeda dengan longsor tebing yang terjadi secara tiba-tiba, tanah gerak tipe rayapan ini terjadi secara perlahan dan senyap, seolah memberikan "waktu" bagi warga untuk menyaksikan rumah mereka bergeser sentimeter demi sentimeter setiap harinya.

Kondisi bencana yang perlahan namun pasti ini menuntut kekuatan mental dan kelapangan dada yang luar biasa dari para korban. Warga dituntut untuk berdamai dengan kenyataan bahwa harta benda yang mereka bangun bertahun-tahun harus ditinggalkan demi keselamatan nyawa. Sikap *nrimo ing pandum* (ikhlas menerima ketetapan) sangat terlihat dari keputusan mereka untuk mematuhi imbauan pemerintah agar tidak kembali ke zona merah. Mereka menyadari bahwa tidak ada yang tahu pasti kapan pergerakan tanah tersebut akan benar-benar berhenti.

Kondisi jalan aspal di perkampungan Jangli yang terbelah dan ambles cukup dalam akibat pergerakan tanah yang masif
Gambar Ilustrasi : Akses Jalan yang Terputus

Dukungan Moral Dari Banyak Pihak

Besarnya skala kerusakan dan dampak sosial yang ditimbulkan membuat tragedi tanah gerak Jangli ini menjadi sorotan nasional. Dukungan moral mengalir deras, tidak hanya dari sesama warga Kota Semarang yang berdonasi, tetapi juga dari pucuk pimpinan negara. Kehadiran Wakil Presiden RI dan Gubernur Jawa Tengah yang turun langsung menyapa warga di bawah tenda pengungsian di tengah rintik hujan memberikan suntikan moril yang sangat berarti. Kehadiran mereka menegaskan bahwa negara hadir dan para korban tidak berjuang sendirian.

Selain dukungan logistik dan kunjungan pejabat, peran para relawan kemanusiaan, pemuda Karang Taruna, dan mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang juga patut diapresiasi. Mereka silih berganti datang untuk mengadakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak pengungsi, membantu distribusi air bersih, hingga sekadar duduk mendengarkan keluh kesah warga. Jaring pengaman sosial yang terbentuk secara spontan ini membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan di ibu kota Jawa Tengah ini masih sangat kental dan responsif terhadap jeritan sesama.

Beberapa relawan muda sedang menghibur dan mengajak bermain anak-anak korban tanah gerak di area luar tenda pengungsian
Gambar Ilustrasi : Pendampingan Relawan Sosial

Harapan Relokasi Demi Masa Depan

Kini, setelah berminggu-minggu hidup di pengungsian, fokus utama masyarakat Jangli mulai bergeser pada kepastian masa depan. Pemilik lahan kosong tempat berdirinya tenda saat ini hanya memberikan izin pemakaian maksimal selama dua bulan. Waktu yang terus berjalan membuat warga sangat menggantungkan harapan pada janji pemerintah kota dan provinsi terkait skema relokasi. Mereka sangat mendambakan sebidang tanah baru yang secara geologis aman untuk didirikan hunian tetap, tempat mereka bisa kembali menata hidup dan merajut mimpi yang sempat tertimbun.

Proses relokasi sebuah perkampungan tentu bukanlah perkara mudah karena menyangkut pencabutan akar sosial dan sejarah warga dari tempat tinggal asalnya. Meskipun nanti harus berpindah ke lokasi yang benar-benar baru, warga Kampung Sekip berharap pemerintah tetap menempatkan mereka dalam satu blok pemukiman yang berdekatan. Hal ini dinilai sangat krusial agar ikatan kekeluargaan, kerukunan bertetangga, dan struktur sosial yang sudah terbangun solid puluhan tahun tidak terpecah belah akibat bencana alam ini.

Potret seorang warga lansia yang menatap nanar ke arah reruntuhan rumahnya dengan latar belakang cuaca mendung
Gambar Ilustrasi : Harapan di Tengah Ketidakpastian

Kesimpulan

Bencana tanah gerak di Jangli adalah ujian berat bagi ketahanan infrastruktur sekaligus ketahanan sosial warga Kota Semarang. Hancurnya bangunan fisik rupanya berbanding terbalik dengan bangunan sosial kemasyarakatan yang justru semakin kokoh tak tertembus. Inisiatif mendirikan dapur umum, gotong royong antarwarga, hingga kepatuhan untuk saling menjaga keselamatan di pengungsian adalah potret nyata kedewasaan sosial warga Kampung Sekip.

Mari kita terus panjatkan doa dan berikan dukungan terbaik agar proses relokasi saudara-saudara kita di Jangli dapat segera terealisasi dengan baik. Ketangguhan mereka mengajarkan kita satu pelajaran berharga: bahwa sebesar apa pun bumi bergeser dan meruntuhkan pijakan, selama kita saling berpegangan tangan dalam solidaritas, kita tidak akan pernah benar-benar terjatuh.


Komentar

Nama

agriculture,2,business,2,children,2,community,3,controversies,1,crime,2,crimes,3,criminal cases,4,culture,3,education,1,emergencies,1,emergency services,1,Event,20,government,2,health,2,incident,2,indonesia,2,Kuliner,30,local news,4,money,1,news,6,Pendidikan,40,police reports,1,politics,3,politics and government,1,politics and law,2,public health,1,Regional,26,religion,1,schools,2,Semarangan,25,social issues,1,Sosial,21,spirituality,1,Usaha,20,Wisata,32,
ltr
item
Semarang In Media | Media Online Semarang Jawa Tengah: Potret Ketangguhan Sosial Warga Korban Tanah Gerak Jangli
Potret Ketangguhan Sosial Warga Korban Tanah Gerak Jangli
Melihat lebih dekat ketangguhan sosial dan semangat gotong royong warga Kampung Sekip, Jangli, Semarang, dalam menghadapi musibah bencana tanah gerak.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPTbUyzQJniqrBZW8hP59x-kq7NU0znebFVHkSiWxUFI32KFYAB7_mJGSzNkQY4x_iO87uI7JTc4eLtMz210_br2eD3o9v67miMQrxZHb0lkev2b1gu2zL3QK6Htay8nbZQynxIb3PiPyXQ75jnBNiT4TcD6yIDgKqyjiMWUKD168rg5uONOY8hfX5ZzlS/s1600/pendirian-tenda-darurat-cover.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPTbUyzQJniqrBZW8hP59x-kq7NU0znebFVHkSiWxUFI32KFYAB7_mJGSzNkQY4x_iO87uI7JTc4eLtMz210_br2eD3o9v67miMQrxZHb0lkev2b1gu2zL3QK6Htay8nbZQynxIb3PiPyXQ75jnBNiT4TcD6yIDgKqyjiMWUKD168rg5uONOY8hfX5ZzlS/s72-c/pendirian-tenda-darurat-cover.jpg
Semarang In Media | Media Online Semarang Jawa Tengah
https://www.semarang.in/2026/02/potret-ketangguhan-sosial-warga-korban-tanah-gerak-jangli.html
https://www.semarang.in/
https://www.semarang.in/
https://www.semarang.in/2026/02/potret-ketangguhan-sosial-warga-korban-tanah-gerak-jangli.html
true
2582917081679686152
UTF-8
Tampilkan semua artikel Tidak ditemukan di semua artikel Lihat semua Selengkapnya Balas Batalkan balasan Delete Oleh Beranda HALAMAN ARTIKEL Lihat semua MUNGKIN KAMU SUKA LABEL ARSIP CARI SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel yang anda cari Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec sekarang 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 pekan lalu Fans Follow INI ADALAH KNTEN PREMIUM STEP 1: Bagikan ke sosial media STEP 2: Klik link di sosial mediamu Copy semua code Blok semua code Semua kode telah dicopy di clipboard mu Jika kode/teks tidak bisa dicopy, gunakan tombol CTRL+C Daftar isi