Mengupas alasan mengapa Kota Semarang terbagi menjadi dua wilayah geografis, serta sejarah perkembangannya sejak era kolonial hingga jadi pusat kota
Bagi masyarakat yang baru pertama kali menjejakkan kaki di ibu kota Jawa Tengah, tata letak kota ini mungkin akan terasa sangat unik dan berbeda dari kota besar lainnya di pesisir utara Jawa. Jika Jakarta atau Surabaya didominasi oleh hamparan dataran rendah yang relatif datar hingga ke batas kota, Semarang menawarkan kontur topografi yang sangat kontras. Kota metropolis ini secara kultural dan geografis terbelah menjadi dua kawasan utama yang dikenal luas dengan sebutan Semarang Bawah dan Semarang Atas. Pembagian ini bukanlah sekadar istilah administratif pemerintahan, melainkan realitas fisik bentang alam yang membentuk identitas ganda kota lumpia ini.
Perbedaan elevasi (ketinggian) tanah antara kedua kawasan ini sangatlah ekstrem, membentang dari elevasi nol meter di bibir pantai utara hingga mencapai lebih dari tiga ratus meter di atas permukaan laut di kawasan perbukitan selatan. Perbedaan kontur tanah ini secara langsung memengaruhi banyak aspek kehidupan warganya, mulai dari suhu udara harian, jenis vegetasi yang tumbuh, tata ruang pemukiman, hingga kerentanan terhadap bencana alam. Mengenal lebih dekat karakteristik geografi Semarang Atas dan Semarang Bawah adalah kunci utama untuk memahami urat nadi sejarah, pergerakan ekonomi, serta denyut kehidupan sosial masyarakat yang mendiaminya.
Sejarah Pembagian Geografis Kota
Sejarah terbentuknya dikotomi Semarang Atas dan Semarang Bawah memiliki akar yang sangat kuat pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, tepatnya pada awal abad ke-20. Pada mulanya, pusat kehidupan dan perniagaan Kota Semarang murni terkonsentrasi di kawasan pesisir (Semarang Bawah) yang berpusat di sekitar Kota Lama dan Pelabuhan Tanjung Emas. Namun, seiring dengan pertumbuhan penduduk Eropa yang pesat, kawasan pesisir mulai dirasa terlalu padat, kumuh, dan bersuhu sangat panas. Kondisi sanitasi yang buruk di daerah rendah ini juga memicu wabah penyakit mematikan seperti kolera dan malaria yang menelan banyak korban jiwa dari kalangan pejabat Belanda.
Menghadapi krisis tata kota tersebut, pemerintah kolonial akhirnya menunjuk seorang arsitek dan perencana kota visioner bernama Herman Thomas Karsten untuk merancang perluasan kota. Karsten melihat potensi perbukitan di wilayah selatan (kini kawasan Candi Baru dan Gajahmungkur) sebagai solusi permukiman baru yang jauh lebih sehat, berhawa sejuk, dan bebas dari ancaman banjir maupun wabah penyakit. Sejak proyek "Nieuw Candi" (Candi Baru) direalisasikan pada tahun 1916, dimulailah migrasi kaum elit Eropa ke kawasan perbukitan, yang secara tidak langsung meletakkan fondasi awal terbentuknya kawasan eksklusif Semarang Atas yang kita kenal hingga saat ini.
Dinamika Kehidupan Di Semarang Bawah
Kawasan Semarang Bawah secara geografis meliputi wilayah-wilayah pesisir dan dataran rendah seperti Kecamatan Semarang Utara, Semarang Tengah, Semarang Timur, hingga Genuk dan Tugu. Karena topografinya yang sejajar atau bahkan di beberapa titik lebih rendah dari permukaan air laut, kawasan ini menjadi pusat suhu panas yang cukup menyengat di siang hari. Meskipun beriklim keras, Semarang Bawah memegang peranan vital sebagai jantung ekonomi, pemerintahan, dan sejarah kota. Di sinilah berdiri megah gedung-gedung pemerintahan (Balai Kota), pusat perbelanjaan modern di kawasan Simpang Lima, kompleks Stasiun Tawang, hingga bangunan-bangunan heritage peninggalan VOC di Kota Lama.
Namun, di balik perputaran roda ekonominya yang sangat cepat, Semarang Bawah memiliki satu musuh abadi yang terus dihadapi oleh pemerintah dan warganya dari generasi ke generasi: banjir rob. Naiknya air pasang laut yang menggenangi daratan pesisir telah menjadi bagian dari rutinitas wilayah utara kota ini. Sebagai respon terhadap kondisi geografis tersebut, berbagai infrastruktur penanggulangan banjir skala raksasa terus dibangun, seperti sistem polder (kolam retensi) di Tawang dan Banger, serta proyek normalisasi Banjir Kanal Barat dan Timur. Perjuangan melawan rob ini membentuk karakter warga Semarang Bawah yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Pesona Sejuk Di Semarang Atas
Bergerak ke arah selatan melintasi tanjakan-tanjakan terjal, kita akan memasuki kawasan Semarang Atas yang secara topografi didominasi oleh gugusan perbukitan dan lembah hijau. Wilayah ini mencakup kecamatan-kecamatan seperti Gajahmungkur, Candisari, Tembalang, Banyumanik, hingga Gunungpati dan Mijen. Elevasi tanah yang tinggi memberikan anugerah berupa kualitas udara yang jauh lebih bersih dan suhu lingkungan yang terasa beberapa derajat lebih sejuk dibandingkan daerah bawah. Pada pagi hari atau musim penghujan, bukan hal yang aneh jika kawasan atas ini kerap diselimuti kabut tipis yang memberikan nuansa seperti berada di kota pegunungan.
Karakteristik alam yang asri ini menjadikan Semarang Atas sebagai kawasan primadona untuk sektor permukiman residensial menengah ke atas dan pusat pendidikan. Universitas-universitas negeri raksasa pencetak ribuan sarjana seperti Universitas Diponegoro (Undip) di Tembalang dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Sekaran, Gunungpati, berdiri megah di kawasan perbukitan ini. Keberadaan kampus-kampus besar ini mengubah wajah Semarang Atas menjadi kawasan pendidikan yang sangat dinamis, dipenuhi oleh denyut kehidupan mahasiswa perantau, deretan kos-kosan, kafe-kafe estetik kekinian, dan pusat kuliner malam yang hidup selama dua puluh empat jam penuh.
Infrastruktur Penghubung Dua Ketinggian
Menyatukan dua wilayah dengan perbedaan elevasi yang ekstrem tentu membutuhkan rekayasa infrastruktur transportasi yang tidak biasa. Untuk memfasilitasi mobilitas ratusan ribu warga yang setiap hari melaju dari permukiman di Semarang Atas menuju tempat kerja di Semarang Bawah, pemerintah membangun ruas-ruas jalan menanjak yang kini menjadi *landmark* ikonik kota. Beberapa tanjakan legendaris yang membelah perbukitan tersebut antara lain Tanjakan Gombel yang terkenal dengan kisah urban *legend*-nya, Tanjakan Tanah Putih, Tanjakan Siranda, serta Jalan Dr. Wahidin (Kaliwiru). Jalan-jalan arteri ini didesain berkelok-kelok menyusuri tebing bukit untuk mengurangi tingkat kemiringan aspal agar aman dilalui kendaraan.
Keberadaan jalan-jalan penghubung di lereng perbukitan ini ternyata memberikan keuntungan ganda bagi sektor pariwisata Kota Semarang. Dari tepi jalan raya di kawasan Taman Tabanas Gombel atau Rinjani, warga dan wisatawan disuguhi pemandangan *city view* (pemandangan kota) yang sangat spektakuler tanpa ada penghalang visual gedung tinggi. Saat matahari terbenam dan malam tiba, hamparan cahaya lampu dari ribuan bangunan di Semarang Bawah serta kerlap-kerlip lampu kapal di Pelabuhan Tanjung Emas terlihat seperti lautan kunang-kunang di daratan. Menikmati jagung bakar di tepi tanjakan sambil memandangi lanskap bawah kota kini telah menjelma menjadi budaya rekreasi malam yang sangat merakyat bagi *cah Semarang*.
Kesimpulan
Semarang Atas dan Semarang Bawah adalah bukti nyata bagaimana sebuah kota metropolis modern bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan kontur alam yang ekstrem. Meskipun memiliki karakteristik geografis, iklim, dan fungsi tata ruang yang saling bertolak belakang, keduanya saling melengkapi untuk membentuk identitas Kota Semarang yang utuh. Pemahaman tentang dualitas geografi kota ini tidak hanya penting bagi kajian tata kota atau sejarah, tetapi juga menjadi panduan berharga bagi para pendatang, mahasiswa baru, maupun investor yang ingin menetap dan merajut masa depan di pelukan kehangatan ibu kota Jawa Tengah ini.
- Pemerintah Kota Semarang: Profil Geografi Wilayah
- Buku "Semarang Riwayatmu Dulu" karya Amen Budiman (Sejarah Tata Kota Karsten)
Komentar