Mencicipi Gule Kambing Bustaman Pak Sabar di Kota Lama Semarang. Unik karena tidak pakai santan, tapi menggunakan serundeng yang gurih dan ringan.
Berbicara soal kuliner kambing di Kota Semarang, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada Sate 29 atau Gule di kawasan Kota Lama. Namun, ada satu nama yang memegang tahta tertinggi untuk urusan Gule khas Semarangan: Gule Kambing Bustaman Pak Sabar. Lokasinya yang strategis di kawasan Kota Lama (tepatnya di belakang Gereja Blenduk) membuat warung tenda sederhana ini selalu dipadati wisatawan maupun warga lokal.
Apa yang membuatnya begitu istimewa hingga bertahan puluhan tahun? Jawabannya ada pada kuahnya. Jika gulai Padang atau gulai Jawa pada umumnya identik dengan kuah santan yang kental dan mahteh (berat), Gule Bustaman justru sebaliknya. Kuahnya cair, ringan, namun memiliki ledakan rasa gurih yang kompleks. Ini adalah seni kuliner warisan Kampung Bustaman—kampung jagal legendaris di Semarang—yang wajib Anda coba.
Rahasia Dapur: Serundeng Pengganti Santan
Banyak pelanggan baru yang terkejut saat menyeruput kuah Gule Pak Sabar. "Kok gurih tapi tidak bikin eneg?" tanya mereka. Rahasianya terletak pada penggunaan Serundeng (kelapa parut sangrai) yang ditumbuk halus bersama bumbu rempah.
Minyak alami yang keluar dari kelapa sangrai inilah yang memberikan rasa gurih (umami) alami dan warna kecokelatan pada kuah. Teknik ini membuat Gule Bustaman terasa lebih "enteng" di tenggorokan dan tidak meninggalkan rasa lengket lemak (aftertaste) yang berlebihan. Ditambah dengan racikan rempah "Gule Arab" seperti kapulaga, cengkeh, kayu manis, dan adas, aroma yang dihasilkan sungguh mampu membangkitkan selera makan siapa saja yang lewat.
Tekstur Daging dan Jeroan yang "Mropol"
Keunggulan lain dari Gule Pak Sabar adalah teknik pengolahan dagingnya. Potongan daging kambing, babat, usus, dan jeroan lainnya dimasak dalam waktu yang lama dengan api kecil. Hasilnya adalah tekstur yang mropol (sangat empuk dan mudah lepas dari tulang).
Anda tidak perlu bertarung alot saat mengunyahnya. Bau prengus kambing pun nyaris tidak tercium, tertutup sempurna oleh aroma rempah serundeng tadi. Satu porsi biasanya disajikan dengan nasi putih hangat, irisan jeruk nipis, kecap manis, dan taburan bawang goreng yang melimpah. Bagi pecinta pedas, gerusan cabai rawit rebus di dasar piring akan menambah sensasi "nendang" yang bikin keringat bercucuran.
Suasana Autentik Kota Lama
Menikmati Gule Pak Sabar bukan hanya soal rasa, tapi juga suasana. Makan di warung tenda terbuka, ditemani semilir angin malam Kota Lama dan pemandangan bangunan kolonial tua, memberikan nuansa nostalgia yang kental. Meskipun tempatnya sederhana (kaki lima), kebersihan dan kecepatan pelayanannya patut diacungi jempol.
Tips Berkunjung: Warung ini biasanya buka mulai sore hingga malam hari. Namun, karena saking larisnya, bagian-bagian favorit seperti kepala kambing atau sumsum seringkali ludes sebelum jam 8 malam. Jadi, datanglah lebih awal jika Anda mengincar potongan spesial tersebut.
Kesimpulan
Gule Kambing Bustaman Pak Sabar adalah bukti bahwa kuliner tradisional Semarang memiliki identitas yang kuat. Perpaduan budaya Jawa dan Arab yang melahirkan teknik kuah serundeng tanpa santan adalah inovasi rasa yang tak lekang oleh zaman. Bagi Anda yang sedang berwisata ke Semarang, belum sah rasanya jika belum berkeringat menikmati sepiring kehangatan di belakang Gereja Blenduk ini.
Komentar