Kenali Tari Gambang Semarang, tarian khas hasil akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Simak sejarah, keunikan gerak, dan makna filosofisnya di sini!
Semarang tidak hanya dikenal sebagai kota pelabuhan yang sibuk atau surganya kuliner lumpia, tetapi juga merupakan kuali peleburan budaya yang kaya. Salah satu manifestasi seni paling ikonik dari kota ini adalah Tari Gambang Semarang. Tarian ini bukan sekadar gerak tubuh yang indah, melainkan sebuah identitas kultural yang mencerminkan watak masyarakat pesisir yang terbuka, egaliter, dan penuh semangat. Keberadaan tarian ini menjadi bukti nyata bagaimana dua kebudayaan besar, yaitu Jawa dan Tionghoa, dapat hidup berdampingan secara harmonis selama berabad-abad di Kota Atlas. Tidak seperti tarian keraton yang cenderung halus dan meditatif, Gambang Semarang menawarkan nuansa yang merakyat, gembira, dan spontan, menjadikannya hiburan yang selalu dinanti dalam berbagai perhelatan budaya maupun pariwisata.
Sejarah Akulturasi Dua Budaya
Seni ini lahir dari gagasan brilian Lie Hoo Soen, seorang tokoh masyarakat dan anggota Dewan Rakyat (Volksraad) pada sekitar tahun 1930. Kala itu, ia merasa Semarang perlu memiliki kesenian khas yang bisa menjadi identitas kota, terinspirasi oleh kesenian Gambang Kromong yang sudah lebih dulu populer di Batavia (Jakarta). Ia kemudian menggandeng musisi-musisi berbakat untuk menciptakan komposisi musik yang menggabungkan elemen Tionghoa dan gamelan Jawa. Pada awalnya, Gambang Semarang hanyalah berupa pertunjukan musik orkestra. Namun seiring berjalannya waktu, elemen gerak tari dan komedi (lawak) mulai dimasukkan untuk membuat pertunjukan semakin semarak. Perkembangan ini tidak lepas dari peran para seniman peranakan dan pribumi yang berkolaborasi tanpa sekat, menjadikan kesenian ini simbol persatuan yang melampaui perbedaan etnis pada masa kolonial hingga kemerdekaan.
Ciri Khas Gerakan Dinamis
Karakteristik utama yang membedakan Tari Gambang Semarang dengan tarian Jawa lainnya adalah pada kelincahan dan dinamika geraknya. Ciri yang paling menonjol adalah gerakan pinggul yang bergoyang secara ritmis, atau dalam istilah lokal disebut "ngondhek". Gerakan ini dilakukan dengan tumpuan berat badan yang berpindah-pindah secara luwes, menggambarkan ombak Laut Jawa yang tidak pernah diam, sekaligus merepresentasikan keluwesan pergaulan warga Semarang. Selain fokus pada pinggul, gerakan kaki juga menjadi elemen vital. Para penari sering melakukan gerakan "genjot" atau jinjit yang cepat mengikuti tempo musik yang rancak. Sepanjang tarian, para penari wajib memasang ekspresi wajah yang sumringah, sesekali melempar senyum dan lirikan mata yang jenaka. Hal ini menyiratkan pesan keramahan dan kehangatan, mengajak siapa saja yang menonton untuk ikut merasakan kegembiraan.
Musik Pengiring dan Kostum
Harmonisasi budaya juga terdengar jelas dari alunan musik pengiringnya. Instrumen gamelan Jawa seperti bonang, kendang, dan gong berpadu apik dengan alat musik gesek khas Tionghoa seperti tehyan atau kongahyan, serta tiupan seruling. Lagu yang paling legendaris dan wajib dimainkan adalah "Empat Penari" dan "Gambang Semarang", yang liriknya jenaka dan mudah diingat oleh masyarakat luas. Dari segi busana, penari Gambang Semarang tampil memikat dengan balutan Kebaya Encim khas peranakan. Warna-warna yang dipilih biasanya cerah dan menyala seperti merah cabai, kuning gading, atau hijau tosca untuk menonjolkan kesan ceria. Bawahan menggunakan kain batik motif Semarangan yang identik dengan flora fauna pesisir, dilengkapi selendang sampur yang diikatkan di pinggang sebagai properti utama saat menari.
Makna Filosofis Harmoni Sosial
Di balik gerakannya yang lincah dan terkesan sekadar hiburan, Tari Gambang Semarang menyimpan filosofi mendalam tentang kebhinnekaan. Tarian ini mengajarkan bahwa perbedaan latar belakang budaya bukanlah alasan untuk berkonflik, melainkan modal untuk menciptakan karya seni yang indah. Sinergi antara nada pentatonis Jawa dan diatonis Tionghoa dalam musiknya adalah metafora dari toleransi yang sudah mendarah daging di Semarang. Selain itu, semangat tarian ini juga menyimbolkan optimisme dan kerja keras. Gerakan yang tak henti bergerak, gesit, dan penuh energi mencerminkan etos kerja masyarakat pesisir yang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup. Kegembiraan yang dipancarkan penari adalah pengingat agar kita selalu menghadapi dinamika kehidupan dengan hati yang lapang dan senyuman.
Kesimpulan
Tari Gambang Semarang adalah aset berharga yang merekam jejak sejarah panjang multikulturalisme di ibu kota Jawa Tengah ini. Melalui gerak dan lagunya, kita diajak untuk menengok kembali betapa indahnya persaudaraan yang dibangun di atas perbedaan. Melestarikan tarian ini bukan hanya tugas seniman, tetapi juga apresiasi kita terhadap warisan leluhur. Jika berkunjung ke Semarang, luangkanlah waktu untuk menyaksikan pertunjukan ini dan rasakan sendiri energi positifnya!
Credit :
Penulis : Raihan Muhammad Latif
Gambar oleh : Nano Banana - Gemini Google
Referensi :
Komentar