Artikel lengkap sejarah Stasiun Semarang Tawang. Dari arsitektur pondasi apung, perjuangan lawan banjir, hingga patung Soekarno. Baca selengkapnya!
Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng bukan sekadar tempat singgah bagi para pelancong, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam jejak panjang peradaban transportasi di Indonesia. Berdiri megah di kawasan Kota Lama, stasiun ini adalah gerbang utama menuju romantisme masa lalu Semarang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan internasional. Aura nostalgia langsung menyergap begitu kaki melangkah masuk, disambut oleh langit-langit tinggi dan pilar-pilar kokoh yang seolah bercerita tentang kejayaan era kolonial. Sebagai stasiun kereta api besar tipe A yang tertua di Indonesia, Tawang memiliki peran vital yang tak tergantikan. Keberadaannya menjadi bukti sahih mengapa Semarang dijuluki sebagai "Kota Kereta Api". Di sinilah denyut nadi perekonomian Hindia Belanda pernah berpusat, mengangkut hasil bumi dari pedalaman Jawa menuju pelabuhan untuk diekspor ke Eropa. Kini, di tengah modernisasi, Tawang tetap berdiri anggun, memadukan keindahan arsitektur klasik dengan fasilitas modern yang memanjakan penumpang.
Jejak Awal Sejarah Perkeretaapian
Sejarah stasiun ini tidak bisa dilepaskan dari pencangkulan tanah pertama pembangunan jalur kereta api di Indonesia pada 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Jalur tersebut menghubungkan Semarang dengan Tanggung (Grobogan). Namun, perlu dicatat bahwa stasiun yang kita lihat sekarang bukanlah stasiun pertama. Stasiun Tawang dibangun untuk menggantikan stasiun sebelumnya, yaitu Stasiun Samarang NIS (di daerah Tambaksari), yang kala itu sudah dianggap tidak memadai lagi karena sering terendam banjir dan kapasitasnya terlalu kecil untuk menampung lonjakan penumpang serta barang komoditas. Diresmikan pada tanggal 1 Juni 1914 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Stasiun Tawang dirancang sebagai stasiun induk yang prestisius. Pemilihan lokasi di utara Kota Lama sangat strategis karena dekat dengan pusat pemerintahan dan perdagangan. Selama masa perang kemerdekaan hingga agresi militer, stasiun ini sempat mengalami pasang surut operasional, bahkan sempat diambil alih oleh Jepang. Namun, setelah kemerdekaan, Tawang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan terus berevolusi menjadi salah satu stasiun tersibuk di Pulau Jawa hingga hari ini.
Keajaiban Arsitektur Pondasi Mengapung
Arsitek Belanda, Ir. Sloth-Blaauboer, menghadapi tantangan besar saat merancang stasiun ini: kondisi tanah rawa yang sangat lunak dan labil. Untuk mengatasinya, ia menerapkan teknik konstruksi yang revolusioner pada zamannya, yaitu pondasi pelat beton bertulang yang membentang luas layaknya sebuah rakit raksasa. Teknik ini memungkinkan beban bangunan tersebar merata, sehingga stasiun seolah-olah "mengapung" di atas tanah lumpur tersebut tanpa ambles atau retak parah meski sudah berdiri lebih dari satu abad. Gaya arsitektur yang diusung adalah Indies Empire Style yang megah namun tetap adaptif terhadap iklim tropis. Hal ini terlihat dari atap kubah yang besar di aula utama untuk sirkulasi udara maksimal, serta penggunaan tritisan lebar untuk menahan tampias hujan. Jendela-jendela besar dengan kaca patri artistik tidak hanya berfungsi sebagai pencahayaan alami, tetapi juga menambah estetika visual yang memukau. Kemegahan ini menjadikan Tawang sering disandingkan dengan stasiun-stasiun besar di Eropa.
Melodi Nostalgia Gambang Semarang
Salah satu ciri khas yang paling membekas di hati penumpang adalah suara bel kedatangan kereta (arrival chime). Berbeda dengan stasiun lain yang menggunakan nada "Westminster Chimes" standar, Stasiun Tawang memutar instrumen lagu daerah "Gambang Semarang". Alunan nada riang gembira ciptaan Oey Yok Siang ini akan bergema setiap kali kereta api hendak masuk atau meninggalkan peron, menciptakan atmosfer penyambutan yang hangat dan personal. Tradisi memutar lagu ini bukan sekadar penanda teknis, melainkan upaya pelestarian budaya. Bagi para perantau asal Semarang, mendengar melodi ini saat turun dari kereta adalah momen emosional yang menandakan bahwa mereka telah "pulang ke rumah". Suara musik yang khas, berpadu dengan hiruk-pikuk pengumuman petugas, menciptakan memori kolektif yang sulit dilupakan oleh siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di peron Tawang.
Perjuangan Melawan Banjir Rob
Kisah Tawang juga diwarnai perjuangan panjang melawan alam, khususnya fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) dan banjir rob. Selama puluhan tahun, stasiun ini sering kali lumpuh total karena air pasang laut masuk hingga menggenangi rel dan ruang tunggu. Pemandangan stasiun yang terendam air setinggi lutut sempat menjadi hal yang lumrah, bahkan memunculkan julukan ironis sebagai stasiun "Venesia van Java". Pihak pengelola stasiun harus berkali-kali meninggikan lantai bangunan agar tetap bisa beroperasi. Titik terang muncul dengan revitalisasi kawasan Polder Tawang di depan stasiun. Kolam retensi raksasa ini berfungsi menampung air hujan dan rob, lalu memompanya kembali ke sungai/laut menggunakan sistem pompa modern. Berkat keberadaan polder ini, area stasiun kini bebas dari banjir dan berubah menjadi ruang terbuka yang asri. Polder ini tidak hanya berfungsi teknis, tetapi juga menambah keindahan lansekap stasiun, menjadikannya tempat favorit warga untuk bersantai menikmati sore.
Ikon Baru Patung Soekarno
Wajah Stasiun Tawang semakin menawan dengan hadirnya patung Dr. Ir. H. Soekarno yang berdiri gagah di tengah area polder. Diresmikan pada tahun 2021, patung setinggi 14 meter ini (termasuk pilar) menjadi landmark baru yang ikonik. Pose patung menggambarkan Bung Karno yang sedang menunjuk ke angkasa, menyimbolkan semangat cita-cita tinggi dan kepemimpinan yang visioner. Keberadaan patung ini, ditambah dengan penataan lampu taman yang estetik saat malam hari, menjadikan area depan Stasiun Tawang sebagai spot foto favorit wisatawan. Perpaduan latar belakang gedung stasiun klasik, hamparan air polder yang tenang, dan patung Sang Proklamator menciptakan komposisi visual yang sempurna antara sejarah masa lalu dan semangat kebangsaan masa kini.
Kesimpulan
Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng adalah bukti nyata bagaimana warisan sejarah dapat terus hidup dan relevan di zaman modern. Dari pondasi terapung yang jenius hingga melodi Gambang Semarang yang ikonik, setiap sudutnya menyimpan cerita. Mengunjungi stasiun ini adalah sebuah perjalanan melintasi lorong waktu yang mengagumkan. Mari kita jaga dan apresiasi kemegahan ini sebagai salah satu aset budaya bangsa yang tak ternilai harganya.
Credit :
Penulis : Raihan Muhammad Latif
Gambar oleh : Nano Banana - Gemini Google
Referensi :
Komentar