Jelajahi keajaiban arsitektur cendawan karya Thomas Karsten di Pasar Johar. Ikon cagar budaya Semarang yang bangkit kembali dengan wajah megah.
Bagi warga Semarang, Pasar Johar bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli dalam transaksi ekonomi semata, melainkan sebuah monumen hidup yang menyimpan ribuan memori kolektif. Sejak didirikan pada masa kolonial Belanda, pasar ini telah menjadi denyut nadi perdagangan utama di Jawa Tengah bagian utara, bahkan sempat dinobatkan sebagai pasar terbesar dan terindah di Asia Tenggara pada zamannya. Namun, sejarah panjang tersebut sempat terhenti secara tragis ketika si jago merah melalap habis kompleks pasar ini dalam kebakaran hebat tahun 2015, menyisakan puing dan duka mendalam bagi ribuan pedagang. Kini, bak burung Phoenix yang bangkit dari abu, Pasar Johar telah terlahir kembali melalui proses revitalisasi panjang yang penuh kehati-hatian.
Pasca revitalisasi besar-besaran yang rampung dan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo, Pasar Johar bertransformasi menjadi ruang publik yang modern namun tetap mempertahankan jiwa klasiknya. Ia tidak lagi kumuh, gelap, atau semrawut seperti bayangan pasar tradisional masa lalu yang seringkali becek. Sebaliknya, Johar kini berdiri megah sebagai bangunan Cagar Budaya Nasional yang memadukan fungsi pasar rakyat yang humanis dengan estetika arsitektur kelas dunia yang memukau. Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri lorong-lorong sejarah, mengagumi detail arsitektur, dan merasakan denyut baru dari ikon Kota Atlas tersebut.
Mahakarya Arsitektur Herman Thomas Karsten
Daya tarik utama yang membuat Pasar Johar begitu istimewa terletak pada desain arsitekturnya yang jenius, sebuah mahakarya dari arsitek Belanda terkemuka, Herman Thomas Karsten. Dibangun pada tahun 1930-an, ciri khas yang paling ikonik dan selalu dicari oleh para wisatawan maupun pemerhati arsitektur adalah konstruksi pilar-pilarnya yang unik menyerupai jamur, atau dikenal dengan istilah Konstruksi Cendawan (Mushroom Construction). Pilar-pilar beton bertulang ini bukan sekadar hiasan kosmetik untuk mempercantik bangunan, melainkan dirancang dengan perhitungan fisika dan lingkungan yang sangat matang untuk merespons iklim tropis Semarang yang panas dan lembap.
Bentuk cendawan yang melebar di bagian atas memungkinkan atap pasar memiliki celah ventilasi udara alami (cross ventilation) yang sangat tinggi dan efektif. Udara panas dari aktivitas pasar akan naik ke atas dan keluar melalui celah-celah atap, digantikan oleh udara segar yang masuk dari bawah, menciptakan sirkulasi udara yang sejuk secara alami tanpa memerlukan bantuan pendingin ruangan (AC). Selain itu, desain ini memungkinkan pencahayaan matahari masuk secara maksimal ke seluruh penjuru pasar namun tidak menyengat (indirect sunlight), sehingga pasar tetap terang benderang di siang hari namun tetap teduh. Revitalisasi terbaru berhasil mengembalikan bentuk asli pilar-pilar ini yang selama puluhan tahun sempat tertutup oleh lapak-lapak liar, sehingga kemegahan "hutan beton" ini kini bisa dinikmati secara utuh.
Berjalan di antara pilar-pilar tinggi Pasar Johar saat ini memberikan sensasi yang berbeda, seolah-olah kita sedang berada di dalam galeri seni instalasi raksasa atau museum sejarah, bukan di pasar tradisional. Langit-langit yang tinggi memberikan kesan lapang, megah, dan membebaskan pandangan, menjauhkan kesan sumpek dan pengap yang biasanya melekat pada citra pasar rakyat. Ini adalah bukti nyata bahwa arsitektur masa lalu mampu menjawab tantangan kenyamanan masa kini dengan sangat elegan.
Zonasi Modern dan Digitalisasi Pasar
Lupakan bayangan pasar tradisional yang identik dengan lorong sempit, becek, dan aroma yang kurang sedap. Pasar Johar Cagar Budaya (Johar Utara, Tengah, dan Selatan) kini ditata dengan sistem zonasi yang sangat rapi dan manajemen yang modern. Pemerintah Kota Semarang telah mengatur penempatan pedagang berdasarkan jenis dagangannya: area basah untuk daging, ikan, dan sayur mayur ditempatkan di zona khusus dengan sanitasi yang baik; area kering untuk konveksi, tekstil, dan pecah belah menempati area utama yang bersih; serta area kuliner dan jajanan pasar yang terpusat. Lorong-lorong antar kios dibuat lebar dan resik, sangat ramah bagi penyandang disabilitas (difabel) maupun wisatawan yang ingin sekadar berjalan-jalan santai menikmati suasana tanpa harus berdesak-desakan.
Selain pembenahan fisik yang signifikan, sistem manajemen pasar pun telah menyentuh era digital, sejalan dengan visi Semarang sebagai Smart City. Banyak pedagang di Pasar Johar kini telah bertransformasi melayani pembayaran non-tunai menggunakan QRIS, memudahkan pembeli dari kalangan milenial atau wisatawan yang jarang membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Sistem retribusi pasar pun kini dilakukan secara elektronik (e-retribusi) untuk transparansi. Sinergi antara nuansa pasar rakyat yang guyub, di mana tawar-menawar masih terjadi, dengan kemudahan teknologi masa kini menjadikan pengalaman berbelanja di Johar terasa unik, efisien, dan sangat nyaman.
Kembalinya Alun-Alun Semarang
Salah satu pencapaian terbesar dan paling emosional dari proyek revitalisasi ini adalah dikembalikannya fungsi Alun-Alun Semarang yang selama puluhan tahun seolah "hilang" dari peta kota karena tertutup bangunan pasar yaik dan lapak pedagang kaki lima yang padat. Kini, area depan Pasar Johar yang berhadapan langsung dengan Masjid Agung Kauman telah disulap kembali menjadi ruang terbuka hijau yang luas, rapi, dan estetik. Pembangunan kembali alun-alun ini sejatinya mengembalikan filosofi tata kota Jawa kuno yang disebut "Catur Gatra Tunggal", yaitu kesatuan harmonis antara empat elemen pusat kehidupan: pusat pemerintahan (Kanjengan), pusat ibadah (Masjid Agung Kauman), pusat ekonomi (Pasar Johar), dan ruang publik (Alun-Alun).
Di sore hari, area alun-alun ini menjadi spot favorit warga kota untuk bersantai, berolahraga ringan, bermain bersama anak-anak, atau sekadar duduk menikmati hamparan rumput hijau dengan latar belakang siluet arsitektur pasar yang megah dan menara masjid yang agung. Keberadaan alun-alun ini memberikan "napas" segar bagi kawasan perdagangan yang padat, sekaligus menjadi spot foto yang sangat instagramable bagi para pengunjung. Sinergi antara ruang terbuka hijau yang asri dan bangunan cagar budaya yang kokoh ini menjadikan kawasan Johar sebagai destinasi wisata kota (city tour) yang lengkap dan berkelas.
Destinasi Wisata Heritage dan Belanja
Pasar Johar kini tidak hanya berfungsi sebagai tujuan ibu-ibu berbelanja kebutuhan dapur harian, tetapi juga telah bermetamorfosis menjadi destinasi wajib bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Semarang. Para pecinta fotografi arsitektur dan sejarah akan dimanjakan dengan angle-angle simetris yang dramatis dari pilar cendawan, serta permainan cahaya alami (shadow and light) yang indah yang menembus celah-celah ventilasi. Sementara bagi para pemburu oleh-oleh, Johar tetap menjadi surga belanja dengan harga yang sangat miring (harga grosir) dibandingkan toko modern.
Di sini, Anda bisa menemukan aneka ragam Batik Semarangan dengan motif khas Warak Ngendog atau Tugu Muda, kain tenun, perlengkapan ibadah, hingga jajanan pasar legendaris yang menggugah selera. Lantai atas pasar juga kini sering dimanfaatkan untuk ruang pameran seni, pertunjukan musik keroncong, atau event budaya lainnya, menegaskan posisi Pasar Johar sebagai pusat kreativitas warga. Pengunjung bisa merasakan sensasi berbelanja di dalam gedung yang terasa seperti museum hidup, sebuah pengalaman autentik yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern atau mal bertingkat.
Kesimpulan
Pasar Johar adalah bukti keberhasilan Kota Semarang dalam merawat ingatan kota dan menghargai warisan masa lalu. Ia mengajarkan kita bahwa modernisasi tidak harus menggusur sejarah, melainkan bisa berjalan beriringan. Dengan wajah barunya yang megah namun ramah, Pasar Johar siap kembali menjadi motor penggerak ekonomi rakyat sekaligus ikon pariwisata heritage yang membanggakan Indonesia. Bagi Anda yang berkunjung ke Semarang, sempatkanlah meluangkan waktu untuk menyesap kopi lokal atau membeli batik di bawah naungan pilar cendawan Johar yang legendaris, dan rasakan sendiri aura sejarahnya.
Credit :
Penulis : Raihan Muhammad Latif
Gambar oleh :
Nano Banana - Gemini Google
Referensi :
Komentar