Dari Futsal ke Lintasan Atletik: Awal Perjalanan Yusuf Fikri Albar Menemukan Dunia Lari
Tidak semua atlet menemukan jalannya sejak awal. Bagi Yusuf Fikri Albar, mahasiswa baru semester pertama Program Studi S1 Manajemen Universitas Semarang (USM), dunia atletik justru hadir dari sebuah tawaran sederhana di masa sekolah. Berawal dari kegemarannya bermain futsal dan sepak bola, Yusuf perlahan menemukan panggilan barunya di lintasan lari sebuah perjalanan yang kelak mengantarkannya pada prestasi di tingkat provinsi.
Yusuf mengaku sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah pertama, aktivitas olahraganya lebih banyak diisi dengan futsal dan sepak bola. Minatnya terhadap atletik belum tumbuh hingga momen menjelang kelulusan SMP. Saat itu, guru olahraga melihat potensi lain dalam diri Yusuf dan menawarkannya untuk mencoba cabang atletik, khususnya lari.
“Awalnya saya aktif di futsal sama sepak bola. Waktu mau lulus SMP, saya ditawari guru olahraga buat coba atletik atau lari. Saya lihat juga ada peluang, akhirnya saya coba,” ujar Yusuf mengenang awal perjalanannya.
Keputusan sederhana tersebut menjadi titik balik. Yusuf kemudian menempuh pendidikan SMA di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Jawa Tengah yang berlokasi di kompleks Jatidiri, Semarang. Di lingkungan itulah Yusuf mulai menjalani pembinaan atletik secara lebih serius dan terarah.
Selepas lulus SMA, Yusuf mendapatkan informasi dari pelatihnya mengenai kesempatan melanjutkan pendidikan di Universitas Semarang melalui jalur beasiswa. Meski kini berstatus sebagai mahasiswa USM, Yusuf mengaku belum tergabung secara langsung dalam komunitas atlet kampus. Ia masih menjalani latihan secara mandiri bersama pelatihnya.
“Saya latihan mandiri sama pelatih di sini. Belum pernah kumpul atau gabung latihan bareng atlet USM,” tuturnya.
Kecintaannya pada olahraga menjadi alasan utama Yusuf bertahan dan terus menekuni dunia atletik hingga saat ini. Selain sebagai penyaluran minat, dunia olahraga juga memberinya peluang untuk mandiri secara finansial. “Saya memang suka olahraga dari dulu. Kebetulan juga lumayan buat tambahan uang jajan,” katanya sambil tersenyum.
Perjalanan Yusuf sebagai atlet tidak selalu berjalan mulus. Kekalahan demi kekalahan yang pernah dialami justru menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mental dan kedewasaannya sebagai atlet. Ia menjadikan setiap kegagalan sebagai bahan evaluasi untuk berlatih lebih giat.
“Dari kekalahan yang pernah ada, itu saya jadikan pembelajaran supaya latihan lebih giat dan performa bisa meningkat,” jelasnya.
Dalam refleksi perjalanannya, Yusuf menekankan bahwa proses yang ia jalani tidak lepas dari keyakinan pribadi dan dorongan untuk membuktikan diri. Keraguan dari sebagian orang justru menjadi pemantik semangat untuk terus melangkah.
“Semua tentu atas izin dan rezeki dari Tuhan. Mungkin ada yang meragukan, dan saya cuma ingin membuktikan saja,” ucapnya.
Lebih dari sekadar prestasi, perjalanan di dunia atletik memiliki makna personal yang mendalam bagi Yusuf. Ia melihat olahraga sebagai ruang untuk membangun tujuan hidup, sekaligus membuka kesempatan yang setara bagi semua, termasuk penyandang disabilitas.
“Dari segala keterbatasan yang saya miliki, saya bisa hidup dengan banyak tujuan. Saya juga berharap teman-teman disabilitas yang lain berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” ungkapnya.
Perjalanan panjang tersebut akhirnya bermuara pada pencapaian membanggakan. Yusuf sukses meraih medali emas nomor lari 400 meter kelas T47 serta medali perak nomor lari 200 meter T47 pada Kejuaraan Provinsi Jawa Tengah Cabang Olahraga Para Atletik 2025. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa keputusan sederhana untuk mencoba lari di masa sekolah telah membawanya melangkah jauh.
Usai keberhasilannya di ajang tersebut, Yusuf merasakan apresiasi dari pihak Universitas Semarang melalui publikasi di media sosial kampus dan pemberitaan internal. Baginya, perhatian tersebut menjadi bentuk dukungan moral yang berarti.
Menutup perjalanannya, Yusuf menitipkan pesan sederhana bagi mahasiswa lain yang tengah berjuang di bidang masing-masing. “Fokus saja sama bidang yang ditekuni, manfaatkan setiap kesempatan, dan persiapkan semuanya dengan baik. Kesuksesan itu datang ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan,” pungkasnya.
Kisah Yusuf Fikri Albar menunjukkan bahwa perjalanan menuju prestasi tidak selalu dimulai dari rencana besar. Terkadang, ia berawal dari keberanian untuk mencoba dan konsistensi untuk terus melangkah di lintasan yang dipilih.
Penulis :
Alisya Frida Anjani
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi
Universitas Semarang


Komentar