Mahasiswa KIP-K di Universitas Semaramg (USM) Lolos PIMNAS 2025 Lewat Inovasi Fresh Market
Bagi sebagian mahasiswa, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kerap dipandang sebagai beban tambahan di tengah padatnya aktivitas perkuliahan. Namun bagi Sekar Cinta, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Semarang, PKM justru menjadi pintu awal menuju pengalaman riset yang membawanya hingga ajang nasional Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2025.
Perkenalan Sekar dengan PKM bermula dari kewajiban sebagai penerima beasiswa KIP-K sejak semester dua. Saat itu, ia mengaku belum benar-benar memahami konsep PKM, alur pelaksanaan, maupun standar proposal yang harus dipenuhi. “Awalnya karena kontrak KIP-K disuruh bikin PKM. Dari situ aku belajar PKM itu apa, programnya kayak gimana,” tuturnya.
Upaya pertama tersebut belum membuahkan hasil. Namun Sekar tidak berhenti mencoba. Pada tahun berikutnya, ia kembali mengajukan proposal dan berhasil lolos pendanaan PKM. Perjalanan itu berlanjut hingga 2024, ketika proposal yang ia susun bersama tim tidak hanya kembali memperoleh pendanaan, tetapi juga melaju hingga PIMNAS 2025.
Sekar dan tim memilih skema PKM-Penerapan Iptek (PKM-PI). Pilihan ini didasarkan pada latar belakang keilmuannya di bidang Sistem Informasi. Skema PKM-PI menuntut penerapan teknologi secara nyata melalui kolaborasi dengan mitra berorientasi profit. Dari proses riset lapangan, Sekar dan tim menemukan persoalan yang kerap dihadapi UMKM, khususnya toko sayur lokal, yakni keterbatasan dalam pemasaran dan pengelolaan usaha secara digital.
Dari kebutuhan tersebut lahirlah inovasi bertajuk “Digitalisasi Usaha Toko Sayur Lokal melalui Platform E-Commerce Fresh Market”. Melalui Fresh Market, Sekar dan tim mengembangkan aplikasi berbasis website yang dirancang untuk membantu UMKM sayur masuk ke ekosistem digital. Platform ini ditawarkan dengan biaya terjangkau, disesuaikan dengan kemampuan UMKM, dan difokuskan pada keberlanjutan pemeliharaan sistem.
“Banyak website sekarang itu berbayar dan mahal. Nah kita tawarkan ke UMKM dengan harga yang lebih murah. Sistem tetap jalan, UMKM terbantu, dan teknologinya bisa dipakai jangka panjang,” jelas Sekar.
Meski demikian, jalan menuju PIMNAS tidak berjalan mulus. Tantangan terbesar muncul sejak tahap awal penyusunan proposal. Riset yang matang menjadi kunci utama, sementara prosesnya membutuhkan waktu berbulan-bulan agar permasalahan yang diangkat benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan. Ketentuan proposal PKM yang ketat dan rinci pun menjadi tantangan tersendiri bagi tim.
Sebagai ketua tim, Sekar juga harus memastikan koordinasi antaranggota berjalan dengan baik. Mayoritas anggota tim merupakan teman sekelas yang telah ia kenal sejak semester awal, sehingga memudahkan proses kerja sama. Dukungan dan rasa tanggung jawab tim menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi pengerjaan PKM, mulai dari riset, pengembangan sistem, hingga persiapan PIMNAS.
Peran dosen pembimbing turut menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan tersebut. Sekar dibimbing oleh Puri Mulyandi, S.T., M.T., dosen Teknik Elektro Universitas Semarang. Meski berasal dari latar belakang keilmuan yang berbeda, Sekar menilai hal tersebut justru memperkaya proses bimbingan. Dosen pembimbing tidak hanya menyoroti aspek teknis sistem, tetapi juga menekankan pemahaman terhadap kebutuhan mitra.
“Beliau detail banget. Kalau ada yang lemah, langsung ditunjukin. Kita juga diajarin buat nulis sesuai fakta lapangan, bukan bikin permasalahan sendiri,” ujar Sekar.
Pengalaman paling berkesan bagi Sekar adalah momen PIMNAS. Mulai dari proses pendampingan mitra, pengerjaan PKM hingga larut malam, latihan intensif sebelum keberangkatan, hingga bertemu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan inovasi masing-masing. Dari pengalaman tersebut, Sekar menyadari bahwa riset mahasiswa memiliki ruang pengembangan yang luas dan dapat menjangkau berbagai persoalan di lingkungan sekitar.
Di balik capaian itu, Sekar memandang PKM bukan semata kompetisi, melainkan ruang belajar yang inklusif. PKM menjadi sarana untuk belajar riset, bekerja lintas disiplin, membangun jejaring, serta mengenal dunia akademik secara lebih mendalam. Ia pun mendorong mahasiswa, termasuk mahasiswa baru, untuk tidak ragu mencoba.
“Jangan takut, jangan ragu. PKM itu memang susah, tapi kita belajar banyak. Ketemu teman baru, dapat pengalaman, dan kalau lolos PIMNAS rasanya bangga banget,” katanya.
Keberhasilan Sekar dan tim menembus PIMNAS 2025 menjadi bukti bahwa inovasi dapat lahir dari kepekaan terhadap persoalan sekitar dan keberanian untuk mencoba. Dari kewajiban beasiswa hingga panggung nasional, perjalanan Fresh Market menunjukkan bahwa riset mahasiswa tidak berhenti di atas proposal, melainkan dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat, khususnya UMKM lokal.
Penulis :
Salma Aprilia Putri Afanti
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Semarang



Komentar