Jika Anda melintasi Jalan Pahlawan Semarang baru-baru ini, pasti ada sesuatu yang mencuri perhatian di area pedestrian dan taman median j...
Jika Anda melintasi Jalan Pahlawan Semarang baru-baru ini, pasti ada sesuatu yang mencuri perhatian di area pedestrian dan taman median jalannya. Bukan lagi sekadar deretan pohon asana, kini berdiri gagah dua tokoh wayang legendaris: Patung Bima dan Patung Srikandi.
Kehadiran dua patung ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Semarang untuk mempercantik estetika kota (city branding) sekaligus menghidupkan kembali karakter budaya Jawa di tengah modernisasi. Jalan Pahlawan yang dikenal sebagai "wajah" pemerintahan Jawa Tengah kini terasa lebih berkarakter dan artistik.
1. Simbolisme Karakter: Mengapa Bima dan Srikandi?
Pemilihan tokoh Bima dan Srikandi tentu bukan tanpa alasan. Keduanya memiliki filosofi mendalam yang relevan dengan semangat pembangunan kota:
- Bima (Werkudara): Sosok pria perkasa yang berdiri tegap dengan kuku Pancanaka-nya yang ikonik. Bima melambangkan kekuatan, keberanian, integritas, dan kejujuran. Kehadirannya di Jalan Pahlawan seolah menjadi pengingat akan pentingnya karakter yang kokoh bagi para pemimpin dan masyarakat.
- Srikandi: Sebagai tokoh emansipasi dalam dunia pewayangan, Srikandi melambangkan kecerdasan, ketangguhan, dan keberanian perempuan. Patung ini memberikan pesan inklusivitas bahwa kemajuan Semarang tak lepas dari peran besar kaum perempuan yang hebat.
2. Estetika Visual dan Detail Arsitektur
Berbeda dengan patung beton biasa, patung Bima dan Srikandi ini memiliki detail yang sangat halus dengan sentuhan warna yang elegan. Pada malam hari, tata lampu (spotlight) yang diarahkan ke patung membuat detail relief pakaian wayang dan otot-otot karakter terlihat lebih dramatis.
Lokasi penempatan patung yang berada di area pedestrian Jalan Pahlawan sangat ramah bagi pejalan kaki. Banyak warga yang kini menyempatkan diri berhenti sejenak untuk sekadar berfoto atau mengagumi detail patung tersebut sambil menikmati suasana Semarang.
3. Menghidupkan Budaya di Ruang Publik
Pembangunan patung ini membuktikan bahwa ruang publik tidak harus kaku. Dengan adanya "sentuhan wayang" di Jalan Pahlawan, generasi muda secara tidak langsung diajak untuk kembali mengenal tokoh-tokoh budaya mereka. Ini adalah bentuk visual storytelling yang efektif di tengah kota yang kian sibuk.
4. Tips bagi Pemburu Foto (Instagramable Spot)
Bagi Anda yang ingin mengabadikan keindahan kedua patung baru ini, berikut tipsnya:
- Golden Hour: Datanglah sekitar jam 16.30 - 17.30 WIB. Cahaya matahari sore yang miring memberikan efek bayangan yang keren pada struktur patung.
- Suasana Malam: Jika ingin hasil foto yang lebih modern, datanglah malam hari. Lampu hias di sepanjang Jalan Pahlawan berpadu dengan pencahayaan patung menciptakan nuansa kota metropolis yang estetik.
- Jaga Kebersihan: Area ini sangat rapi. Pastikan Anda tetap berada di jalur pedestrian dan tidak menginjak tanaman saat mengambil angle foto.
Kesimpulan
Kehadiran patung Bima dan Srikandi di Jalan Pahlawan bukan sekadar proyek fisik, melainkan pemberian "ruh" budaya pada jalan paling ikonik di Semarang. Ikon baru ini mempertegas bahwa Semarang adalah kota yang maju namun tetap memegang teguh akar budayanya.
Sudahkah Anda berfoto dengan Bima dan Srikandi minggu ini?
Komentar