Mengulas sejarah, kiprah dakwah, dan warisan keilmuan KH Sholeh Darat, ulama besar asal Semarang yang menjadi guru para tokoh pahlawan nasional.
Membicarakan sejarah Kota Semarang tidak akan pernah lengkap jika kita hanya terpaku pada pesona arsitektur kolonial peninggalan Belanda. Di sudut lain kota ini, terdapat jejak akar spiritual dan peradaban Islam yang tumbuh dengan sangat subur pada masa penjajahan. Salah satu tokoh sentral yang memegang peranan paling penting dalam penyebaran syiar agama di pesisir utara Jawa pada abad kesembilan belas adalah Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani, atau yang lebih tersohor dengan panggilan KH Sholeh Darat.
Nama besar beliau mungkin jarang tertulis di dalam buku teks sejarah umum di sekolah, namun pengaruh pemikiran dan dakwahnya telah mengakar kuat dalam denyut nadi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau diakui sebagai salah satu maha guru nusantara yang keilmuannya melampaui sekat-sekat organisasi. Kepiawaiannya dalam membumikan ajaran agama agar mudah dipahami oleh masyarakat awam telah menjadikannya sosok pengayom yang sangat dihormati. Mari kita bedah lebih dalam rekam jejak kehidupan sang ulama legendaris kebanggaan Kota Semarang ini.
Asal Usul Dan Gelar Nama Darat
Kiai Haji Sholeh dilahirkan di pesisir Jepara pada sekitar tahun seribu delapan ratus dua puluhan dari sebuah keluarga pejuang. Ayahandanya, Kiai Umar, merupakan salah satu panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro yang berjuang di wilayah pesisir utara Jawa. Tumbuh di tengah gejolak perlawanan terhadap kolonialisme Belanda membuat sosok Sholeh muda memiliki mental kejuangan yang tangguh serta kecintaan yang sangat mendalam terhadap ilmu agama sebagai pondasi moral pergerakan.
Setelah menimba ilmu hingga ke Tanah Suci Makkah dan mendapatkan pengakuan dari para ulama besar di sana, beliau memutuskan untuk pulang ke tanah air dan menetap di Semarang. Beliau memilih tinggal dan mendirikan pondok pesantren di kawasan pesisir utara kota yang pada masa itu dikenal dengan sebutan kampung Darat (sekarang masuk wilayah Kecamatan Semarang Utara). Dari nama kawasan inilah julukan "Darat" kemudian melekat abadi di belakang namanya, sebagai penanda wilayah basis dakwah utamanya yang mencerahkan masyarakat pesisir.
Guru Para Ulama Besar Nusantara
Kealiman dan luasnya wawasan KH Sholeh Darat segera memancar bagaikan mata air yang menarik perhatian para pencari ilmu dari berbagai penjuru tanah Jawa. Pesantrennya di kawasan Darat tidak pernah sepi dari para santri yang kelak akan meneruskan estafet perjuangannya. Hebatnya, dari bilik pesantren sederhana di Semarang inilah lahir tokoh-tokoh raksasa pembentuk wajah keislaman di Indonesia modern yang pengaruhnya masih sangat kuat hingga detik ini.
Dua di antara murid terbaik beliau yang paling fenomenal adalah KH Hasyim Asy'ari (pendiri organisasi Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri pergerakan Muhammadiyah). Keduanya pernah duduk bersama menimba ilmu dan digembleng langsung oleh kelembutan akhlak serta ketajaman intelektual KH Sholeh Darat di Semarang. Fakta sejarah ini membuktikan bahwa dua organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut sejatinya bermuara pada satu sumber keilmuan yang sama, membawa pesan persatuan dan toleransi yang diajarkan oleh sang mahaguru.
Menerjemahkan Alquran Untuk RA Kartini
Kiprah KH Sholeh Darat tidak hanya terbatas di kalangan pesantren kaum pria, melainkan juga menyentuh langsung denyut kebangkitan intelektual kaum perempuan pribumi. Salah satu murid spiritual beliau yang paling istimewa adalah Raden Ajeng Kartini. Pertemuan bersejarah antara keduanya terjadi dalam sebuah pengajian di Demak, di mana Kartini sangat terpukau dengan penjelasan tafsir ayat Alquran yang disampaikan oleh sang kiai dalam bahasa Jawa yang sangat membumi dan mudah dimengerti.
Menyadari besarnya dahaga Kartini akan pemahaman makna kitab suci, KH Sholeh Darat kemudian berinisiatif untuk menerjemahkan ayat-ayat Alquran ke dalam huruf Arab Pegon (bahasa Jawa beraksara Arab). Kitab tafsir Faidhur Rohman tersebut merupakan karya tafsir Alquran berbahasa Jawa pertama di nusantara, yang kemudian dihadiahkan kepada Kartini sebagai kado pernikahannya. Berkat terjemahan inilah Kartini menemukan esensi frasa "Minadz-Dzulumaati ilan-Nuur" yang kelak menginspirasinya melahirkan pepatah legendaris "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Warisan Karya Dan Makam Bergota
Sepanjang hidupnya yang diabdikan untuk syiar Islam, KH Sholeh Darat tergolong sebagai ulama yang sangat produktif dalam bidang literasi. Beliau menulis puluhan kitab yang membahas berbagai disiplin ilmu, mulai dari akidah, fikih ibadah, hingga tasawuf. Uniknya, sebagian besar karyanya sengaja ditulis menggunakan aksara Arab Pegon dengan bahasa Jawa yang lugas agar ilmu agama bisa diakses dan dipahami secara langsung oleh masyarakat lapisan bawah yang saat itu tidak memiliki privilese pendidikan formal dari pemerintah Belanda.
Sang mahaguru akhirnya berpulang ke rahmatullah pada tahun seribu sembilan ratus tiga dan dimakamkan di kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota, jantung Kota Semarang. Meskipun sudah lebih dari satu abad berlalu, makam beliau tidak pernah sepi dari para peziarah yang datang silih berganti dari seluruh pelosok negeri. Keberadaan makam ini telah menjadi salah satu episentrum wisata religi terpenting di Kota Semarang, sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa beliau menerangi peradaban Nusantara.
Kesimpulan
Mempelajari biografi KH Sholeh Darat menyadarkan kita bahwa Kota Semarang menyimpan mutiara peradaban yang sangat berharga. Beliau bukan sekadar tokoh lokal yang memimpin komunitas pesisir, melainkan pilar utama yang menghubungkan rantai keilmuan Islam dari Timur Tengah ke tanah Nusantara. Semangatnya yang menyala dalam menerjemahkan ajaran agama ke dalam bahasa kaumnya merupakan strategi kebudayaan yang sangat jenius untuk meruntuhkan kebodohan di masa penjajahan kolonial Belanda.
Sebagai generasi muda pewaris sejarah Semarang, meneladani keluhuran budi KH Sholeh Darat adalah sebuah keharusan. Semangat persatuan, semangat literasi, dan kepedulian terhadap pendidikan perempuan yang ditunjukkannya ratusan tahun lalu masih sangat relevan untuk diaplikasikan di era modern ini. Mari sempatkan waktu untuk berziarah dan memanjatkan doa di pusara beliau di Bergota, sebagai wujud terima kasih atas cahaya ilmu yang telah beliau pancarkan bagi kemerdekaan batin bangsa ini.
- Portal Resmi Pemprov Jawa Tengah: Profil Tokoh Sejarah
- Buku "Mahaguru Ulama Nusantara: KH Sholeh Darat"