Semarang bukan hanya kota lumpia, tapi juga kota toleransi. Simak potret harmoni kehidupan antar umat beragama yang damai dan patut ditiru.
Semarang seringkali disebut sebagai "Venesia-nya Pulau Jawa" karena topografinya yang unik. Namun, ada julukan lain yang jauh lebih membanggakan dan menyentuh hati: **Kota Toleransi**. Di saat isu perpecahan dan intoleransi masih sering terdengar di berbagai belahan dunia, Semarang justru berdiri tegak sebagai oase kedamaian. Di kota ini, perbedaan agama dan etnis bukanlah tembok pemisah, melainkan benang warna-warni yang menenun keindahan kain sosial masyarakatnya.
Suasana "adem ayem" (tenang dan damai) di Semarang bukan terjadi secara kebetulan. Ini adalah hasil dari sejarah panjang akulturasi budaya antara Jawa, Tionghoa, dan Arab yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Berjalan di sudut-sudut kota Semarang, Anda akan merasakan atmosfer persaudaraan yang kental, di mana azan magrib bersahutan syahdu dengan lonceng gereja, dan aroma dupa dari klenteng menyatu dengan asap sate di angkringan. Artikel ini akan memotret sisi manis toleransi di Ibu Kota Jawa Tengah yang layak menjadi teladan bagi Indonesia.
Warak Ngendog: Simbol Penyatuan Tiga Etnis
Bukti paling nyata dari DNA toleransi warga Semarang terukir dalam maskot kota mereka: **Warak Ngendog**. Hewan mitologi ini selalu diarak dalam tradisi Dugderan menyambut bulan suci Ramadhan. Jika diperhatikan, wujud Warak Ngendog adalah representasi jenius dari persatuan tiga etnis besar di Semarang.
Kepalanya berbentuk Naga (mewakili etnis Tionghoa), tubuhnya menyerupai Buraq (mewakili umat Islam/Arab), dan kakinya adalah kaki Kambing (mewakili etnis Jawa). Keberadaan makhluk imajiner ini mengajarkan filosofi bahwa sejak zaman dahulu, leluhur warga Semarang telah sepakat untuk meleburkan ego identitas masing-masing demi membentuk satu identitas baru yang harmonis, yaitu "Wong Semarang".
Tetangga Tuhan di Simpang Lima dan Kota Lama
Toleransi di Semarang juga tercermin jelas dalam tata ruang kotanya. Cobalah tengok kawasan Simpang Lima. Di sana, Masjid Raya Baiturrahman berdiri megah, tak jauh dari keramaian pusat perbelanjaan dan gereja-gereja di sekitarnya. Bergeser ke kawasan Kota Lama, Gereja Blenduk yang ikonik berdiri hanya selemparan batu dari masjid-masjid tua di perkampungan Melayu.
Yang paling menarik adalah **Klenteng Sam Poo Kong**. Meskipun merupakan tempat ibadah Tri Dharma (Tionghoa), klenteng ini juga menjadi destinasi spiritual bagi sebagian umat Muslim karena sejarah Laksamana Cheng Ho yang merupakan seorang Muslim taat. Di sini, Anda bisa melihat warga Tionghoa yang sedang membakar hio, sementara di sudut lain terdapat warga Muslim yang sedang berziarah atau sekadar berfoto. Tidak ada tatapan curiga, yang ada hanyalah saling menghormati ruang ibadah masing-masing.
Persaudaraan Meja Makan: Pasar Semawis
Interaksi sosial yang paling jujur seringkali terjadi di meja makan. Di **Pasar Semawis** (Warung Semawis) kawasan Pecinan, toleransi dirayakan melalui kuliner. Setiap akhir pekan, jalanan Gang Warung ditutup untuk menjadi surga kuliner malam.
Di sini, pedagang sate babi (non-halal) bisa berjualan berdampingan dengan pedagang es puter Muslim (halal) tanpa ada gesekan. Pengunjung pun sudah sangat dewasa; mereka yang Muslim tahu mana yang boleh dimakan, dan penjual pun dengan jujur memberi label pada dagangannya. Pemandangan warga berhijab duduk satu meja panjang dengan warga keturunan Tionghoa sambil menyantap hidangan masing-masing adalah pemandangan biasa yang menyejukkan hati.
Kesimpulan
Toleransi di Semarang bukanlah sekadar slogan di spanduk pemerintahan, melainkan napas kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam sapaan hangat tetangga beda agama, dalam gotong royong membersihkan selokan kampung, dan dalam senyuman tulus saat merayakan hari raya masing-masing. Semarang mengajarkan kita bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan, melainkan alasan untuk saling melengkapi dan memperkaya warna kehidupan.
Komentar