Menguak mitos urban legend paling terkenal di Semarang: Wewe Gombel dan Hotel Sky Garden yang terbengkalai di bukit Gombel. Berani baca?
Bagi warga Semarang, nama Bukit Gombel bukan sekadar nama geografis yang menghubungkan Jatingaleh dengan Banyumanik. Lebih dari itu, kawasan ini adalah "tanah keramat" yang menyimpan urban legend paling terkenal se-antero Jawa Tengah: Wewe Gombel. Setiap kali melewati tanjakan curam yang berkelok ini di malam hari, tak sedikit pengendara yang membunyikan klakson sebagai tanda "permisi" kepada mereka yang tak kasat mata.
Mitos ini semakin kuat dengan keberadaan bangunan raksasa yang terbengkalai di puncak bukit, yakni bekas Hotel Sky Garden. Dulu tempat ini adalah simbol kemewahan, namun kini ia berdiri sunyi, ditelan semak belukar, dan dipercaya sebagai "kerajaan" bagi para makhluk astral. Benarkah Wewe Gombel hanyalah mitos untuk menakut-nakuti anak kecil, atau ada sejarah kelam yang melatarbelakanginya? Mari kita bedah satu per satu misteri yang menyelimuti kawasan Gombel ini.
Legenda Wewe Gombel: Hantu atau Pelindung?
Berbeda dengan Kuntilanak yang identik dengan suara tawa melengking, Wewe Gombel digambarkan sebagai sosok wanita tua dengan payudara yang sangat panjang dan menjuntai. Menurut cerita tutur warga Semarang, asal-usulnya bermula dari seorang wanita yang bunuh diri di Bukit Gombel karena depresi. Konon, ia diusir oleh suaminya yang selingkuh dan menuduhnya tak bisa memberikan keturunan.
Meskipun wujudnya menyeramkan, ada sisi unik dari mitos ini. Wewe Gombel dipercaya tidak melukai anak-anak yang diculiknya. Ia justru "menyelamatkan" anak-anak yang ditelantarkan atau dimarahi orang tuanya di kala Maghrib. Anak tersebut akan disembunyikan dan diberi makan (yang konon sebenarnya adalah kotoran manusia yang diubah ilusi menjadi makanan enak) sampai orang tuanya sadar dan menyesal. Mitos ini pun menjadi *parenting tool* ampuh bagi orang tua di Semarang zaman dulu agar anak-anak tidak keluyuran saat sandikala.
Hotel Sky Garden: Dari Bintang 5 Jadi Rumah Hantu
Jika Wewe Gombel adalah "penghuni" tak kasat mata, maka Hotel Sky Garden adalah monumen fisiknya. Dibangun pada akhir tahun 1970-an, hotel ini dulunya adalah yang termewah di Jawa Tengah dengan luas mencapai 12 hektare. Bayangkan, hotel ini memiliki fasilitas kolam renang, bar, dan pemandangan *city light* Semarang yang memukau. Namun, kejayaan itu runtuh pada tahun 1982 akibat sengketa kepemilikan dan masalah finansial.
Sejak ditutup, bangunan ini dibiarkan membusuk. Akar-akar pohon beringin mulai menembus dinding kamar, dan kolam renang yang dulu biru kini berubah menjadi rawa hijau pekat. Komunitas Semarangker (Semarang Angker) sering menyebut lokasi ini sebagai salah satu *spot* paling horor. Konon, area kolam renang dan lorong-lorong gelapnya kini menjadi "sarang" aktivitas supranatural yang sangat padat, termasuk penampakan sosok wanita yang dipercaya sebagai sang Wewe Gombel itu sendiri.
Fakta Sejarah vs Mitos Nama "Gombel"
Di luar cerita mistis, ada fakta sejarah menarik mengenai asal-usul nama "Gombel". Sebagian sejarawan lokal menyebutkan bahwa Gombel sebenarnya adalah akronim dari masa kolonial Belanda, yaitu GOMBEL (Gerakan Operasi Militer BElanda). Kawasan berbukit ini dulunya memang strategis sebagai pos pemantauan militer.
Selain itu, di sekitar tanjakan Gombel Baru terdapat sebuah bangunan kecil yang sering dikira makam keramat oleh para pelintas. Faktanya, itu bukanlah makam, melainkan tugu peringatan atau altar doa (Bong Cino) yang sudah ada sejak lama. Seringnya terjadi kecelakaan di jalur ini—karena kontur jalan yang curam dan menikung tajam—seringkali dikaitkan dengan gangguan makhluk halus. Padahal secara logis, faktor rem blong dan kurangnya penerangan di masa lalu adalah penyebab utamanya.
Kesimpulan
Misteri Gombel adalah perpaduan sempurna antara sejarah yang terlupakan, tragedi kemanusiaan, dan imajinasi kolektif warga Semarang. Entah Anda percaya pada hantu atau tidak, melewati Bukit Gombel di malam hari memang selalu memberikan sensasi tersendiri. Reruntuhan Hotel Sky Garden berdiri sebagai pengingat bisu bahwa kemewahan duniawi bisa lenyap dalam sekejap, meninggalkan cerita yang abadi di telinga masyarakat.
Komentar