Ulas tuntas dampak Tol Semarang-Demak. Proyek strategis tanggul laut yang atasi banjir rob, urai macet Pantura, dan bangkitkan ekonomi Kota Wali.
Kabupaten Demak, yang selama ini dikenal dengan julukan "Kota Wali" karena sejarah religiusnya yang kental, kini tengah menjadi sorotan nasional berkat adanya proyek infrastruktur raksasa. Selama bertahun-tahun, wilayah pesisir Demak—khususnya Kecamatan Sayung—menghadapi ancaman eksistensial berupa abrasi dan banjir rob (pasang air laut) yang menenggelamkan ribuan hektare lahan produktif dan permukiman warga. Jalur Pantura yang menjadi urat nadi logistik Pulau Jawa pun kerap lumpuh total saat air laut pasang. Namun, harapan baru kini membentang di garis pantai utara tersebut. Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak hadir bukan sekadar sebagai jalan bebas hambatan biasa. Proyek Strategis Nasional (PSN) ini didesain dengan konsep multifungsi yang revolusioner: sebagai jalur konektivitas logistik sekaligus sebagai tanggul laut raksasa. Langkah ini menjadi titik balik (turning point) bagi pembangunan regional Demak, mengubah narasi wilayah bencana menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi baru yang menjanjikan.
Solusi Permanen Banjir Rob Menahun
Isu paling krusial yang dijawab oleh proyek ini adalah pengendalian banjir rob. Seksi 1 Tol Semarang-Demak (Kaligawe-Sayung) dibangun tepat di atas garis pantai yang tergerus, berfungsi sebagai tanggul laut (sea dyke) yang kokoh. Struktur ini dirancang untuk menahan gempuran ombak Laut Jawa agar tidak lagi masuk membanjiri daratan Sayung dan sekitarnya. Ini adalah solusi teknik sipil yang terintegrasi, di mana infrastruktur transportasi juga berperan sebagai infrastruktur lingkungan. Teknologi yang diterapkan pun sangat menarik, salah satunya adalah penggunaan "Matras Bambu". Inovasi karya anak bangsa ini digunakan sebagai fondasi untuk memperkuat struktur tanah lunak di dasar laut sebelum ditimbun pasir. Penggunaan bambu lapis ini tidak hanya efektif secara teknis dan biaya, tetapi juga ramah lingkungan. Dengan berfungsinya tol ini nanti, ribuan warga Sayung yang selama ini hidup berdampingan dengan genangan air asin diharapkan bisa kembali menata kehidupan dengan rasa aman dan kering.
Urai Kemacetan Legendaris Pantura
Bagi pengemudi logistik atau pemudik, jalur Pantura Semarang-Demak adalah mimpi buruk karena kemacetannya yang legendaris. Pasar tumpah, perbaikan jembatan, hingga banjir rob seringkali membuat perjalanan 10 kilometer harus ditempuh dalam waktu berjam-jam. Kehadiran Tol Semarang-Demak sepanjang 26,7 km ini menjadi solusi konkret untuk mengurai simpul kemacetan tersebut. Konektivitas yang lancar ini akan memangkas waktu tempuh secara drastis dari Semarang menuju Demak, Kudus, Pati, hingga Surabaya. Efisiensi waktu ini berdampak langsung pada penurunan biaya logistik bagi para pelaku usaha. Truk-truk kontainer tidak perlu lagi membakar solar sia-sia dalam kemacetan Pantura, sehingga distribusi barang menjadi lebih cepat dan kompetitif. Bagi warga Demak yang bekerja di Semarang (komuter), akses ini tentu meningkatkan kualitas hidup karena waktu perjalanan yang lebih singkat.
Kawasan Industri Baru Mulai Menggeliat
Dampak ikutan (multiplier effect) dari adanya tol dan pengendalian banjir ini adalah bangkitnya iklim investasi. Demak kini mulai dilirik sebagai lokasi ekspansi kawasan industri baru, menggeser kejenuhan yang terjadi di kawasan industri Semarang. Kecamatan Sayung dan Karangtengah diproyeksikan menjadi kantong-kantong industri manufaktur yang strategis karena akses langsung ke tol dan pelabuhan Tanjung Emas. Pemerintah Kabupaten Demak merespons peluang ini dengan menyelaraskan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Zona-zona industri disiapkan dengan matang untuk menyerap tenaga kerja lokal. Hal ini diharapkan dapat mengubah struktur ekonomi Demak yang selama ini didominasi pertanian, menjadi lebih seimbang dengan sektor industri. Lapangan kerja akan terbuka lebar, mengurangi angka pengangguran, dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan.
Sinergi Wisata Religi dan Alam
Pembangunan infrastruktur modern ini tidak lantas mematikan identitas Demak sebagai Kota Wali. Justru, akses tol yang mudah akan mendongkrak jumlah peziarah ke Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Wisatawan dari luar daerah tidak perlu lagi ragu berkunjung karena takut terjebak macet atau banjir. Potensi wisata religi ini dapat disinergikan dengan wisata alam pesisir yang sedang dikembangkan. Salah satu destinasi yang diuntungkan adalah kawasan Hutan Mangrove Morosari dan Desa Wisata Bedono. Wisatawan dapat melihat langsung fenomena "desa tenggelam" yang eksotis sekaligus belajar tentang mitigasi bencana. Dengan akses yang lebih baik, paket wisata "Religi dan Ekologi" dapat dipromosikan secara lebih luas, menawarkan pengalaman spiritual sekaligus edukasi lingkungan dalam satu kali kunjungan ke Demak.
Kesimpulan
Pembangunan Tol Semarang-Demak adalah bukti bahwa intervensi infrastruktur yang tepat dapat menyelesaikan masalah multidimensi: bencana alam, kemacetan, dan stagnasi ekonomi. Demak sedang bertransformasi dari wilayah penyangga yang sering terabaikan menjadi pemain kunci dalam poros ekonomi Jawa Tengah bagian utara. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa pembangunan fisik ini diimbangi dengan pemberdayaan masyarakat lokal, agar warga Demak menjadi tuan rumah yang sejahtera di tanahnya sendiri.
Credit :
Penulis : Raihan Muhammad Latif
Gambar oleh : Nano Banana - Gemini Google
Referensi :
Komentar