Simak kelezatan tahu petis khas Semarang yang legendaris. Pelajari resep sambal petis kental gurih dan rekomendasi lokasi jualan terbaik.
Berkunjung ke Kota Semarang rasanya tidak akan lengkap tanpa mencicipi aneka jajanan pasarnya yang menggugah selera. Jika Lumpia sering dianggap sebagai "raja" oleh-oleh, maka Tahu Petis adalah "ratu" jajanan jalanan (street food) yang paling dicintai warga lokal. Sederhana namun penuh karakter, kuliner ini berupa tahu goreng kuning atau putih yang dibelah tengahnya, lalu diolesi dengan saus hitam pekat bernama petis. Sensasi menyantapnya sungguh unik: tekstur tahu yang padat dan hangat berpadu dengan lumeran petis yang legit di mulut, ditambah gigitan cabai rawit hijau (cengis) yang pedas meledak. Tahu Petis bukan sekadar gorengan biasa, ia adalah identitas kuliner yang menemani warga Semarang mulai dari angkringan pinggir jalan hingga acara-acara resmi.
Berbeda dengan petis Jawa Timuran yang cenderung asin dan beraroma ikan kuat, petis Semarang memiliki profil rasa yang lebih manis, gurih, dan tidak terlalu amis (lebih mild). Hal inilah yang membuat Tahu Petis Semarang bisa diterima oleh lidah banyak orang, bahkan mereka yang biasanya tidak suka olahan hasil laut. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami keunikan rasa, sejarah, hingga resep rahasia untuk membuat bumbu petis yang nendang di rumah sendiri.
Paduan Rasa Gurih Manis Khas
Kunci kenikmatan tahu petis terletak pada kualitas bumbunya. Petis Semarang biasanya terbuat dari sisa rebusan udang atau ikan yang dimasak kembali dengan gula merah dan bumbu rempah hingga mengental menjadi pasta hitam.
Rasa manis dari gula merah mendominasi, diseimbangkan dengan gurihnya aroma udang dan bawang putih. Saat dioleskan ke dalam tahu pong (tahu kopong) yang baru saja diangkat dari penggorengan, aroma bumbu ini akan semerbak keluar karena hawa panas. Perpaduan kontras antara kulit tahu yang asin-renyah dan isian petis yang manis-lembut menciptakan harmoni rasa yang membuat siapa saja sulit berhenti mengunyah.
Jejak Sejarah Akulturasi Budaya
Seperti halnya Lumpia, Tahu Petis adalah bukti nyata akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa di Semarang. Tahu sendiri berasal dari kebudayaan Tiongkok (Tauhu), sementara petis adalah teknik pengawetan makanan khas masyarakat pesisir Jawa.
Pertemuan kedua budaya ini di jalur perdagangan pesisir utara melahirkan kuliner hibrida yang lezat. Awalnya mungkin hanya santapan sederhana para pekerja pelabuhan, kini Tahu Petis telah naik kelas menjadi camilan wajib yang bisa ditemukan di setiap sudut kota, mulai dari kawasan Simpang Lima hingga gang-gang sempit di Pecinan.
Resep Sambal Petis Rumahan
Ingin mencoba membuatnya di rumah? Anda tidak perlu mencari petis siap saji yang mahal. Berikut adalah cara meracik bumbu petis sederhana yang rasanya mirip dengan penjual aslinya:
Bahan-Bahan:
- 10 buah Tahu Pong / Tahu Kuning (goreng dlm minyak panas + air garam)
- 100 gr Petis Udang kualitas bagus
- 3 siung Bawang Putih (haluskan)
- Gula Merah dan Gula Pasir secukupnya
- Garam dan Merica secukupnya
- Air matang secukupnya
- Sedikit Larutan Maizena/Tepung Terigu (untuk pengental)
Cara Membuat:
- Tumis bawang putih halus hingga harum. Masukkan petis udang, aduk rata dengan api kecil.
- Tuangkan air sedikit demi sedikit hingga kekentalan yang diinginkan. Tambahkan gula merah, gula pasir, garam, dan merica. Koreksi rasa (harus dominan manis-gurih).
- Masak hingga meletup-letup. Jika dirasa kurang kental, tambahkan sedikit larutan maizena. Angkat.
- Ambil tahu goreng hangat, iris tengahnya (jangan putus), isikan adonan petis, sajikan dengan cabai rawit.
Rekomendasi Tempat Beli Legendaris
Jika Anda sedang berada di Semarang dan ingin mencicipi yang autentik, ada beberapa tempat yang wajib dikunjungi. Salah satu yang paling terkenal adalah Tahu Petis Prasojo di kawasan Simpang Lima (Pujasera). Warung ini sudah berdiri puluhan tahun dan selalu antre pembeli.
Selain itu, ada juga Tahu Petis Yudhistira yang kini sudah dikemas modern dan bisa dijadikan oleh-oleh vakum. Namun, sejatinya kenikmatan tahu petis paling hakiki justru sering ditemukan di gerobak-gerobak sederhana pinggir jalan yang digoreng dadakan saat sore hari.
Kesimpulan
Tahu Petis Semarang mengajarkan kita bahwa kemewahan rasa tidak selalu datang dari bahan yang mahal. Dari bahan sederhana seperti ampas tahu dan sisa udang, tercipta mahakarya kuliner yang melegenda. Bagi Anda yang rindu suasana Kota Atlas atau sekadar ingin camilan sore yang beda, menyajikan sepiring tahu petis hangat di meja makan adalah pilihan yang sempurna. Jangan lupa sediakan cabai rawit yang banyak agar sensasinya makin nendang!
Komentar