Telusuri jejak sejarah Kampung Melayu Semarang. Kawasan perdagangan kuno di Jalan Layur yang menjadi saksi bisu akulturasi budaya Arab dan Jawa.
Jika berbicara tentang wisata sejarah di Semarang, mayoritas orang pasti akan langsung merujuk ke kawasan Kota Lama atau Lawang Sewu. Namun, tak jauh dari kemegahan bangunan kolonial Belanda tersebut, tersembunyi sebuah permukiman tua yang menyimpan memori peradaban pesisir yang tak kalah penting. Kawasan itu adalah Kampung Melayu, yang terletak di sepanjang Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.
Berabad-abad silam, sebelum Kota Lama berdiri megah, kawasan ini adalah denyut nadi perdagangan internasional. Terletak tepat di tepi Kali Semarang yang dulu lebar dan bisa dilalui kapal besar, Kampung Melayu menjadi gerbang masuk utama bagi para pedagang dari Arab, Gujarat, hingga Melayu yang mendarat di tanah Jawa. Sayangnya, seiring berjalannya waktu dan tantangan alam berupa banjir rob yang menahun, kejayaan kawasan ini perlahan meredup dan mulai terlupakan oleh generasi muda. Artikel ini akan mengajak Anda memutar waktu, menelusuri lorong sejarah salah satu kampung tertua di Kota Semarang ini.
Gerbang Masuk Pedagang Asing Kuno
Sekitar abad ke-17 hingga 18, Kali Semarang berfungsi sebagai "jalan tol" transportasi air. Kampung Melayu terbentuk secara alami karena posisinya yang strategis sebagai tempat berlabuh. Sebelum Belanda menerapkan politik segregasi etnis (Wijckenstelsel) yang memisahkan permukiman Arab, Cina, dan Pribumi, Kampung Melayu adalah melting pot atau kuali peleburan budaya.
Di sinilah para pedagang dari berbagai bangsa bertemu, bertukar komoditas rempah, kain, dan keramik, serta menyebarkan agama Islam. Jejak kesibukan masa lampau ini masih bisa dilihat dari sisa-sisa arsitektur rumah panggung dan bangunan bertingkat dua dengan gaya campuran Indis dan Timur Tengah yang masih berdiri, meski sebagian besar kini kondisinya memprihatinkan.
Masjid Menara Ikon Akulturasi Arsitektur
Satu-satunya bangunan yang masih berdiri gagah dan menjadi penanda eksistensi kawasan ini adalah Masjid Menara Kampung Melayu atau sering disebut Masjid Layur. Dibangun sekitar tahun 1802 oleh para saudagar Yaman, masjid ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki masjid lain di Semarang.
Sesuai namanya, daya tarik utamanya terletak pada menara masjid yang menjulang tinggi. Uniknya, menara ini tidak bergaya kubah bawang, melainkan berbentuk silinder memanjang yang menyerupai mercusuar. Konon, pada masa lalu, menara ini memang berfungsi ganda: sebagai tempat muazin mengumandangkan azan dan sebagai mercusuar pemandu kapal-kapal dagang yang melintas di Kali Semarang saat malam hari.
Kejayaan Perdagangan Yang Pernah Hidup
Pada masa emasnya, Jalan Layur bukan sekadar permukiman, melainkan pusat bisnis. Deretan ruko-ruko tua di sepanjang jalan ini menjadi saksi bisu transaksi perdagangan lintas benua. Komunitas Arab dan Melayu yang mendiami kawasan ini hidup berdampingan dengan harmonis.
Selain perdagangan barang, Kampung Melayu juga dikenal sebagai pusat penyebaran Islam dan percetakan kitab-kitab agama. Banyak ulama besar Semarang yang memiliki jejak dakwah di kawasan ini. Suasana religius yang kental berpadu dengan hiruk-pikuk pasar menjadikan Kampung Melayu sebagai kawasan elit pada zamannya.
Tantangan Rob Dan Penurunan Tanah
Ironisnya, lokasi yang dulu menjadi keunggulan (dekat sungai dan laut) kini menjadi ancaman terbesar bagi kelestarian Kampung Melayu. Fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan air laut menyebabkan kawasan ini menjadi langganan banjir rob.
Banyak bangunan bersejarah yang pondasinya kini sudah tenggelam di bawah aspal jalan yang terus ditinggikan. Beberapa rumah tua ditinggalkan pemiliknya karena lelah bergelut dengan air asin yang menggerogoti dinding bangunan. Pemandangan bangunan kuno yang "tenggelam" separuh badan menjadi realitas pahit yang harus dihadapi warga Dadapsari setiap hari.
Harapan Baru Sebagai Wisata Sejarah
Meski terhimpit masalah lingkungan, harapan untuk menghidupkan kembali Kampung Melayu belum padam. Pemerintah Kota Semarang mulai melirik potensi kawasan ini sebagai bagian dari pengembangan wisata "Semarang Lama", terintegrasi dengan Kota Lama, Kauman, dan Pecinan.
Revitalisasi Kali Semarang dan perbaikan drainase terus diupayakan. Narasi sejarah Kampung Melayu kini mulai diangkat kembali melalui tur-tur sejarah (walking tour) yang diminati anak muda. Melestarikan Kampung Melayu bukan hanya soal menyelamatkan bangunan tua, tetapi menjaga ingatan kolektif tentang keberagaman dan toleransi yang telah menjadi pondasi Kota Semarang sejak ratusan tahun lalu.
Kesimpulan
Kampung Melayu Semarang adalah permata sejarah yang sedang meredup namun belum kehilangan kilaunya. Di balik dinding-dinding kusam dan genangan rob, tersimpan cerita kejayaan maritim Nusantara. Mengunjungi Kampung Melayu adalah ziarah waktu, mengingatkan kita bahwa Semarang pernah menjadi salah satu pelabuhan terpenting di dunia. Tugas kitalah untuk memastikan cerita ini tidak ikut tenggelam ditelan air pasang.
Komentar