Ulas tuntas keajaiban arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah. Paduan megah gaya Jawa, Romawi, dan Arab yang menciptakan pesona wisata religi kelas dunia.
Di tengah lanskap modern Kota Semarang, tepatnya di Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, berdiri tegak sebuah monumen peradaban yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai mahakarya seni bangun yang diakui dunia. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) adalah representasi fisik dari harmoni lintas budaya yang agung. Dibangun di atas lahan seluas 10 hektare, kompleks masjid ini seolah menjadi "museum hidup" yang merekam jejak arsitektur dari berbagai belahan bumi dalam satu nafas spiritual.
Sejak peletakan batu pertama pada tahun 2001 dan diresmikan penuh pada tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, MAJT telah menarik perhatian arsitek, sejarawan, dan wisatawan mancanegara. Keberanian sang arsitek, Ir. H. Ahmad Fanani, memadukan tiga gaya arsitektur yang sangat kontras Jawa, Arab, dan Romawi (Yunani) menghasilkan sebuah sintesis visual yang memukau. Perpaduan ini bukan sekadar tempelan estetika semata, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang universalitas Islam yang Rahmatan Lil Alamin dapat diterima dan beradaptasi dengan budaya manapun tanpa kehilangan jati dirinya. Mari kita bedah secara mikroskopis setiap elemen yang menjadikan arsitektur masjid ini begitu ajaib dan mendunia.
Filosofi Harmoni Tiga Peradaban Besar
Keajaiban pertama langsung terlihat dari siluet struktur bangunan utamanya. Berbeda dengan masjid-masjid di Timur Tengah yang umumnya didominasi kubah bulat penuh, atap bangunan utama MAJT mengadopsi bentuk Limasan (tajug) tumpuk yang merupakan ciri khas arsitektur tradisional Jawa. Bentuk atap yang mengerucut ke atas ini memiliki makna filosofis vertikal, yakni hubungan hamba dengan Tuhannya (Hablum Minallah). Namun, tepat di puncak limasan tersebut, bertengger sebuah kubah besar berdiameter 20 meter, menyimbolkan nilai-nilai Islam yang menaungi dan menyatu dengan budaya setempat tanpa menghilangkannya. Kontras yang menawan hadir secara dramatis di area plasa depan (alun-alun).
Pengunjung akan disambut oleh deretan 25 pilar kolosal yang melengkung setengah lingkaran, membentuk gerbang penyambut yang megah. Struktur ini serta-merta mengingatkan kita pada kemegahan Colosseum di Roma, Italia. Gaya arsitektur Romawi-Yunani ini memberikan kesan kokoh, megah, dan abadi. Angka 25 pada jumlah pilar ini bukan kebetulan, melainkan simbolisasi teologis dari 25 Nabi dan Rasul yang wajib diimani oleh umat Islam. Di permukaan pilar-pilar tersebut, terukir kaligrafi Arab gaya Tsuluts yang indah, menyempurnakan pertemuan antara estetika Barat yang rasional dan spiritualitas Timur yang transenden.
Atmosfer Nabawi Teknologi Payung Elektrik
Elemen arsitektur yang paling ikonik, viral, dan menjadikan MAJT mendunia adalah keberadaan enam buah payung raksasa otomatis (elektrik) di pelataran masjid. Payung-payung setinggi 20 meter dengan bentangan diameter mencapai 14 meter ini mengadopsi teknologi dan desain yang sama persis dengan yang ada di Masjid Nabawi, Madinah. Indonesia patut berbangga, karena MAJT adalah salah satu masjid pertama di dunia di luar Arab Saudi yang sukses mengaplikasikan teknologi hidrolik canggih ini. Ketika payung-payung ini mekar sempurna biasanya pada saat Sholat Jumat, Sholat Idul Fitri, atau acara pengajian akbar atmosfer plasa seketika berubah drastis.
Lantai marmer yang biasanya memantulkan panas terik matahari Semarang berubah menjadi teduh dan sejuk. Angin yang berhembus di antara celah payung menciptakan suasana syahdu yang seolah membawa ribuan jemaah terbang langsung ke Tanah Suci. Kehadiran payung ini menegaskan kiblat arsitektur Arab yang kuat, melengkapi elemen Jawa dan Romawi yang sudah ada, sekaligus menjadikan MAJT sering dijuluki sebagai "Madinah-nya Jawa".
Menara Asmaul Husna Menembus Langit
Eksplorasi arsitektur MAJT tidak akan lengkap tanpa membahas Menara Al Husna yang menjulang gagah di sisi pojok barat daya. Menara pandang ini dirancang dengan ketinggian presisi 99 meter, sebuah angka yang merujuk pada 99 nama-nama agung Allah (Asmaul Husna). Menara ini berfungsi ganda: sebagai menara adzan yang menyuarakan panggilan ilahi ke segala penjuru kota, sekaligus sebagai destinasi wisata edukasi dan rekreasi yang komprehensif. Menara ini terdiri dari 19 lantai dengan fungsi yang beragam. Di bagian dasar (lantai 2 dan 3), terdapat Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah yang menyimpan koleksi artefak kuno bernilai tinggi, mulai dari naskah kuno hingga gamelan dakwah. Naik ke lantai 18, terdapat kafe berputar (revolving restaurant) yang memungkinkan pengunjung makan sambil menikmati pemandangan yang bergeser perlahan. Puncaknya ada di lantai 19, sebuah gardu pandang yang dilengkapi teropong binokular. Dari titik tertinggi ini, pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat Kota Semarang yang memukau—mulai dari garis pantai Laut Jawa dan Pelabuhan Tanjung Emas di utara hingga deretan perbukitan Gunung Ungaran yang hijau di selatan.
Interior Mewah dan Simbolisme Detail
Masuk ke dalam ruang utama sholat, kemegahan arsitektur berlanjut dengan desain interior yang penuh detail dan simbolisme. Ruangan dua lantai ini mampu menampung hingga 6.000 jemaah (dan total 10.000 jemaah jika digabung dengan plasa). Lantai utamanya menggunakan marmer kualitas terbaik yang didatangkan langsung dari Italia, memberikan sensasi dingin yang alami. Dinding-dindingnya dilapisi material akustik berkualitas tinggi dan dihiasi ornamen ukiran kayu jati yang rumit khas Jepara, serta kaligrafi yang didesain langsung oleh kaligrafer nasional.
Di bagian depan, terdapat mihrab yang agung dengan pigura berbentuk lorong waktu, seolah mengajak jemaah untuk khusyuk melupakan urusan duniawi dan fokus pada Sang Pencipta. Salah satu benda pusaka yang menjadi daya tarik interior adalah Al-Qur'an Raksasa berukuran 145 x 95 cm, ditulis tangan oleh santri dari Pesantren Al-Asyariyyah Wonosobo, serta Bedug Raksasa "Ijo Mangunsari". Bedug ini bukan sembarang bedug; ia adalah replika dari Bedug Pendowo Purworejo, dibuat menggunakan kulit lembu Australia pilihan, yang suaranya mampu menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya.
Fasilitas Pendukung yang Terintegrasi
Selain bangunan utama, kompleks MAJT dirancang sebagai Islamic Center terpadu yang memfasilitasi berbagai kebutuhan umat. Di sisi kanan dan kiri masjid terdapat gedung pertemuan (Convention Hall) yang mampu menampung 2.000 orang, sering digunakan untuk resepsi pernikahan agung atau seminar nasional. Terdapat pula Wisma Penginapan (Graha Agung) yang setara dengan hotel berbintang, memudahkan peziarah dari luar kota untuk bermalam. Perpustakaan digital yang modern, poliklinik, hingga area manasik haji mini juga tersedia di sini. Bahkan, area taman di sekitar masjid ditata dengan sangat apik, lengkap dengan fasilitas kereta kelinci dan area bermain anak, menjadikan MAJT sebagai destinasi wisata keluarga yang ramah dan menyenangkan di akhir pekan.
Kesimpulan
Masjid Agung Jawa Tengah adalah bukti nyata bahwa arsitektur bukan sekadar tentang menyusun batu bata, semen, dan pilar beton. Ia adalah tentang menyusun nilai, sejarah, dan filosofi kehidupan. Bangunan ini adalah jembatan emas yang menghubungkan masa lalu Nusantara yang penuh kearifan dengan masa depan peradaban Islam yang modern dan terbuka. Keajaiban arsitekturnya yang mendunia menjadikan MAJT bukan hanya milik warga Semarang atau Jawa Tengah saja, melainkan aset berharga milik seluruh bangsa Indonesia. Berkunjung ke sini bukan sekadar berwisata mata, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang memperkaya jiwa.
Credit :
Penulis : Raihan Muhammad Latif
Gambar oleh : Nano Banana - Gemini Google
Referensi :
Komentar